Harga Minyak Tembus USD 107 per Barel, APBN Indonesia Terancam Defisit Lebar

- Senin, 09 Maret 2026 | 13:10 WIB
Harga Minyak Tembus USD 107 per Barel, APBN Indonesia Terancam Defisit Lebar

“Apalagi harga minyak mentah pada asumsi makro APBN adalah USD 70, dan defisit terhadap PDB di angka 2.68 persen,” kata Eddy.

“Dengan kenaikan harga migas di atas USD 100 per barel, kemungkinan defisit anggaran bisa tembus di atas 3.6 persen. Seperti diungkapkan pejabat di Kementerian Keuangan.”

Angkanya memang fantastis. Di tahun 2025 lalu, Indonesia mengimpor sekitar 17.6 juta ton minyak mentah dan 37.8 juta ton produk petroleum. Nilainya mencapai USD 32.8 miliar atau setara Rp 551 triliun. Kalau volume impor tahun ini sama, kebutuhan devisa bakal membengkak luar biasa. Harga lebih tinggi, kurs rupiah makin lemah. Dampaknya berlapis.

Namun begitu, yang perlu diwaspadai bukan cuma soal harga. Eddy menekankan soal ketersediaan pasokan alias security of supply. Jika Selat Hormuz sampai ditutup, defisit neraca migas global bakal bikin banyak negara pontang-panting. Mereka akan berebut substitusi, dan tak sedikit yang rela membayar lebih mahal dari harga pasar.

Di sisi lain, Eddy meyakini pemerintah sudah punya persiapan. Misalnya, dengan menyiapkan alternatif sumber impor dari Amerika Serikat. Diversifikasi pasokan dianggap sudah cukup memadai.

Tapi, pertanyaan besarnya tetap menggelayut.

“Yang betul-betul perlu kita perhatikan adalah: sejauh mana ketahanan fiskal negara-negara pengimpor migas dalam memenuhi kebutuhannya, ketika harga semakin melambung untuk waktu yang cukup panjang?” pungkas Eddy Soeparno.

Jawabannya, tentu saja, masih menggantung. Menunggu realitas di lapangan dan keputusan politik yang tak kalah panasnya.

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar