Dominasi An Se-young akhirnya runtuh juga. Di final All England 2026 yang digelar di Birmingham, Minggu lalu, Wang Zhi Yi dari China berhasil mengakhiri rentetan kekalahannya dari sang rival Korea Selatan. Butuh sepuluh final bagi Wang untuk akhirnya menaklukkan An, yang selama ini seolah jadi tembok penghalangnya. Skor akhir 21-15 dan 21-19 cukup berbicara tentang betapa gigihnya perjuangan itu.
Pertandingan ini mempertemukan dua pemain terbaik dunia, dan Wang membuktikan dirinya layak di puncak. Gim pertama berjalan relatif mulus untuknya. Meski sempat tertinggal 0-3 di awal, dia dengan cepat mengambil alih kendali. Permainan di depan netnya sangat efektif, memaksa An berlari. Dia memimpin 11-6 saat jeda dan tak pernah benar-benar kehilangan kendali, menutup gim pertama dengan 21-15.
Namun begitu, gim kedua jauh lebih menegangkan. An Se-young, juara bertahan, tampak bangkit. Dia memimpin 9-6 dengan memanfaatkan momen-momen ceroboh Wang. Tapi, sang petenis China punya jawabannya. Dia berhasil membalikkan keadaan tipis, memimpin 11-10 saat interval.
Selepas itu, duel benar-benar berubah jadi pertarungan stamina dan mental. Reli-reli panjang mewarnai sisa pertandingan, menguras tenaga keduanya. An terus mengejar, bahkan sempat memperkecil jarak jadi 19-20. Poin-poin akhir selalu jadi momen genting. Tapi kali ini, Wang Zhi Yi tampil lebih dingin. Sebuah pukulan akhir yang tepat memastikan kemenangannya 21-19, dan mengantarkannya pada gelar All England perdananya.
Kemenangan ini punya makna khusus. Ini adalah kemenangan pertama Wang atas An di sebuah partai final, setelah sembilan kali gagal. Rekor pertemuan mereka pun sedikit membaik: kini menjadi lima kemenangan untuk Wang dan 18 untuk An. Empat kemenangan sebelumnya diraih di semifinal Kejuaraan Asia 2022, babak kedua China Masters 2023, serta final Denmark Open dan BWF World Tour Finals di 2024. Setelah itu, deretan kekalahan datang bertubi, termasuk di final All England tahun lalu yang berlangsung tiga gim sengit.
Jadi, kemenangan di Birmingham ini bukan sekadar gelar. Ini adalah pembalasan, sekaligus pernyataan bahwa era dominasi mutlak An Se-young bisa ditantang. Wang Zhi Yi membuktikan bahwa kerja keras dan ketekunan akhirnya membuahkan hasil di panggung paling bergengsi sekalipun.
Artikel Terkait
Lima Pria Ditangkap di Ciliwung, Rencana Jual Daging Ikan Sapu-Sapu untuk Siomai Digagalkan
Harga Hewan Kurban di Bojonegoro Naik Rp1–3 Juta per Ekor Jelang Iduladha, Stok Aman
Wakil Ketua Komisi I DPR Desak PBB Evaluasi Perlindungan Pasukan UNIFIL usai Praka Rico Gugur di Lebanon
Polisi Sita 188,91 Gram Sabu dari Pria di Daan Mogot, Jakarta Barat