Kasus pengeroyokan terhadap mahasiswa Undip, Arnendo, oleh tiga puluh rekannya sendiri, menyisakan pertanyaan besar. Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian, angkat bicara. Ia mendesak pemerintah untuk mengevaluasi aturan pencegahan kekerasan di dunia pendidikan. Menurutnya, aturan yang ada saat ini perlu dikaji ulang efektivitasnya.
“Ini jadi PR bersama,” tegas Lalu saat ditemui di Senayan, Jakarta, Jumat lalu.
Ia menambahkan, “Tidak hanya pihak kampus, Kemendikbudristek juga harus me-review ulang. Sudah ada Permendikbudristek soal pencegahan kekerasan, baik fisik, verbal, maupun seksual. Kalau ternyata tak mampu mengurangi jumlah kasus, ya mari kita review bersama-sama.”
Nada suaranya serius. Evaluasi, baginya, mutlak diperlukan agar aturan tak sekadar ada di atas kertas, tapi benar-benar bisa mencegah. Bahkan, jika perlu, aturan setingkat peraturan menteri itu harus ditingkatkan kekuatannya. Mungkin lewat undang-undang.
“Apakah Permendikbudristek itu masih lemah? Atau kita harus menuangkannya dalam undang-undang? Ini penting didiskusikan ke depan,” ujar Lalu. “Soalnya, kasusnya ibarat mati satu tumbuh seribu.”
Ia mengungkapkan, klausul penguatan aturan ini sebenarnya sudah dimasukkan dalam revisi UU Sisdiknas. Tujuannya jelas: untuk memayungi peraturan-peraturan di bawahnya agar lebih kuat dan mengikat. Pihaknya berencana mengundang pemerintah untuk duduk bersama membahas hal ini. Rencananya, setelah Lebaran.
“Nanti akan kami undang dan diskusikan. Kami akan evaluasi permen-permen terkait kekerasan ini,” pungkasnya. “Kalau memang lemah, ya kita cari aturan terbaru yang betul-betul tegas.”
Latar Belakang Korban: Pernah Dilaporkan karena Dugaan Pelecehan
Di sisi lain, kasus ini ternyata punya latar yang rumit. Arnendo, sang korban pengeroyokan, disebutkan pernah dilaporkan ke pihak kampus. Pelaporannya datang dari tiga mahasiswi, yang menduga ia melakukan pelecehan.
Nurul Hasfi, Direktur Jejaring Media, Komunitas dan Komunikasi Publik Undip, membenarkan hal ini.
“Kami menerima laporan dari dekanat,” kata Nurul. “Yang bersangkutan diduga melakukan pelecehan seksual terhadap tiga mahasiswi.”
Laporan itu terjadi sebelum peristiwa pengeroyokan pecah. Informasi ini menambah kompleksitas kasus, sekaligus memunculkan berbagai spekulasi di kalangan publik.
Artikel Terkait
Kebakaran di Jatipulo Palmerah Hanguskan Rumah Lima Kepala Keluarga, Tak Ada Korban Jiwa
CFD Rasuna Said Kembali Digelar Mulai Minggu Besok, Dishub Siapkan 10 Rute Alternatif
Bung Karno Lahir dengan Nama Kusno, Berganti demi Kesehatan dan Keberuntungan
Serangan Udara Israel Tewaskan 10 Warga Gaza, Termasuk Komandan Hamas