Tito Targetkan Nihil Pengungsi Tenda di Sumatera Jelang Lebaran 2026

- Jumat, 06 Maret 2026 | 15:45 WIB
Tito Targetkan Nihil Pengungsi Tenda di Sumatera Jelang Lebaran 2026

Muhammad Tito Karnavian punya target yang jelas. Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera itu menegaskan, pemerintah ingin agar tak ada lagi pengungsi yang terpaksa menghuni tenda menjelang Lebaran 2026 nanti. Mereka adalah korban bencana yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Caranya? Dengan mempercepat pembangunan hunian sementara atau huntara, plus menyalurkan bantuan seperti Dana Tunggu Hunian. Upaya ini digenjot habis-habisan.

"Apapun kita berusaha," tegas Tito dalam keterangan tertulisnya, Jumat (6/3/2026).

"Kemarin rapat, supaya sebelum lebaran target kita tidak ada lagi pengungsi di tenda."

Pernyataan itu ia sampaikan saat blusukan ke Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, meninjau huntara dan menyerahkan bantuan untuk korban bencana hidrometeorologi. Menurutnya, pemindahan pengungsi dari tenda ke tempat yang lebih layak terus didorong. Hasilnya, jumlah mereka yang masih bertahan di tenda menyusut cukup drastis.

"Yang masih ada di tenda itu ada di Aceh dan Sumut," ujar Tito.

"Terutama di Tapteng dan Tapsel. Sementara di Aceh ada di beberapa daerah dan di Sumbar nol. Semua tidak ada lagi yang ada di tenda."

Ia melanjutkan, "Semua di huntara atau dana tunggu hunian."

Angkanya sendiri kini berkisar 6.000 orang. Turun jauh dibanding pekan sebelumnya yang masih sekitar 11.000. "Dari minggu lalu 11.000-an, sekarang sudah 6.000-an," paparnya. "Target kita sebelum Idul Fitri mereka sudah masuk ke huntara atau menggunakan dana tunggu hunian."

Namun begitu, percepatan hunian saja tak cukup. Pemerintah juga paham, para penyintas butuh dukungan logistik selama masa transisi yang tak mudah ini.

Untuk urusan perut, dalam sepuluh hari ke depan BNPB masih akan menanggung kebutuhan makan pengungsi. Setelah itu, bantuan lauk pauk atau jadap dari Kemensos diharapkan sudah bisa berjalan.

"Setelah itu akan menggunakan uang lauk pauk atau jadup dari Kementerian Sosial," jelas Tito.

Dalam kunjungannya, Tito melihat langsung beragam model huntara yang dibangun. Rupanya, tiap hunian punya keunikan sendiri. Ada yang dibangun BNPB, ada pula hasil kerja Danantara, Kementerian PU, bahkan hasil swadaya masyarakat bersama relawan.

"Di BNPB misalnya tidak ada ranjang, tapi kelebihannya dapur dan toiletnya sendiri," ujarnya membandingkan.

"Sementara yang dibangun oleh Danantara dan Kementerian PU ada ranjang dan kipas angin, tetapi dapur dan kamar mandinya komunal."

Kunjungan kerja di Pidie Jaya itu tak dilakukan sendirian. Tito didampingi sejumlah pejabat, antara lain Mensos Saifullah Yusuf, Wagub Aceh Fadlullah, dan Dirjen Administrasi Kewilayahan Kemendagri Safrizal ZA.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar