Di sisi lain, dampaknya sudah merambah ke ranah sosial. Lingkungan yang kumuh dan terlihat tak terurus secara sosiologis bisa menjadi sarang kejahatan dan menekan produktivitas warga. Ini bukan cuma soal bau atau pemandangan. Ini bom waktu yang nyata.
Oleh karena itu, solusi tambal sulam sudah pasti tak memadai. Pola lama harus ditinggalkan. Muara Fajar butuh transformasi total, tata kelola yang radikal, dan sentuhan teknologi untuk mengurai krisis dari akarnya.
Menanggapi hal ini, Kapolda punya usulan. Pandra Arsyad menyebutkan, atasan mereka menawarkan solusi pengelolaan sampah berbasis waste-to-energy (WTE) kepada Pemkot.
"Bapak kapolda menawarkan teknologi WTE untuk mengelola sampah menjadi energi, yang tentunya hal ini sejalan juga dengan semangat Green Policing," katanya.
Dengan teknologi itu, sampah yang selama ini jadi masalah bisa dikonversi menjadi sumber energi listrik tenaga biogas. Sebuah harapan baru di tengah tumpukan persoalan yang sudah menggunung.
Artikel Terkait
Polri Musnahkan Sabu dan Etomidate Hasil Sitaan di Mabes
Situbondo Dirikan Posko Pengaduan untuk Lindungi PMI di Zona Konflik Timur Tengah
Tabrakan Beruntun di Tol Cipularang Tewaskan Dua Orang, Diduga Gagal Rem Truk Kontainer
Buya Yahya Ajak Publik Doakan Presiden Prabowo di Bulan Ramadan