Zhonghua Sheng dari CNRRI melihat, peningkatan produktivitas tidak bisa hanya mengandalkan bibit unggul. Ia menekankan pentingnya pendekatan terpadu, terutama dalam hal manajemen budidaya yang lebih rapi.
"Saya lihat manajemennya memang perlu ditingkatkan. Kita harus punya SOP, standarisasi pengolahan, serta perawatan dari petani yang lebih terstandar," ujar Zhonghua.
Di sisi lain, pemerintah daerah punya catatan khusus. Sekda Merauke, Jermias Paulus Ruben Ndiken, menyambut baik pengembangan padi. Namun, ia mengingatkan agar komoditas lokal khas Papua, seperti sagu, jangan sampai terlupakan.
"Silakan dijadikan tempat untuk padi, tapi jangan lupa juga tanam sagu. Itu ciri khas orang Papua," tegas Jermias.
Melalui kerja sama ini, targetnya bukan cuma riset yang berkelanjutan. Kapasitas sumber daya manusia lokal, terutama Orang Asli Papua, juga akan ditingkatkan lewat pendidikan dan pelatihan. Mereka diharapkan bisa menjadi pelaku utama dalam program cetak sawah rakyat.
Pada akhirnya, kolaborasi Indonesia-Tiongkok ini diarahkan untuk membenahi tata kelola dari hulu ke hilir. Dengan begitu, beras Merauke diharapkan punya kualitas yang konsisten dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas, bahkan hingga ke luar negeri.
Artikel Terkait
Polri Musnahkan Sabu dan Etomidate Hasil Sitaan di Mabes
Situbondo Dirikan Posko Pengaduan untuk Lindungi PMI di Zona Konflik Timur Tengah
Tabrakan Beruntun di Tol Cipularang Tewaskan Dua Orang, Diduga Gagal Rem Truk Kontainer
Buya Yahya Ajak Publik Doakan Presiden Prabowo di Bulan Ramadan