Di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (4/3/2026) lalu, Menteri Luar Negeri Sugiono berbicara pada wartawan. Topiknya serius: konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Menurutnya, ada satu skenario yang benar-benar harus dihindari.
"Risiko paling buruk adalah terjadinya eskalasi yang lebih besar yang melibatkan lebih banyak negara," kata Sugiono.
Ucapannya singkat, tapi bobotnya terasa. Dia tak merinci lebih jauh seperti apa dampak konkretnya jika perang di Timur Tengah itu benar-benar meluas. Namun begitu, pesan utamanya jelas: deeskalasi adalah satu-satunya jalan.
"Kita menginginkan ada deeskalasi. Kemudian situasi mereda, ya kan," ujarnya.
Suasana ruangan saat itu tampak tegang. Sugiono lalu menyampaikan penyesalan atas gagalnya perundingan yang justru berujung pada situasi memanas seperti sekarang.
Di sisi lain, dia juga menekankan satu hal fundamental. Prinsip kedaulatan dan integritas wilayah negara lain, menurutnya, wajib dihormati oleh semua pihak. Tanpa itu, sulit membayangkan perdamaian. Intinya, semua harus bisa menahan diri.
Lalu, apa peran Indonesia dalam keruwetan ini?
"Presiden sendiri sudah menyampaikan keinginan beliau, menawarkan, kesediaan beliau untuk menjadi mediator jika kedua belah pihak menyepakati dan menyetujui ya," jelas Sugiono.
Harapannya sederhana namun mendasar. Agar hukum internasional dan piagam PBB tidak hanya jadi tulisan di atas kertas, tapi benar-benar dijadikan pedoman. Itu kuncinya.
Artikel Terkait
Negosiasi AS-Iran Mentok, Gencatan Senjata di Ambang Batas Waktu
Anton RIIZE Joget Dangdut Koplo Kicau Mania Meski Tak Paham Arti Lirik
Anggota DPR Desak Kemendag Perketat Peredaran Air Keras
Presiden Prabowo Hadiri Syukuran Ulang Tahun ke-67 Titiek Soeharto