Bitcoin lagi-lagi bergoyang. Dalam sehari terakhir, harganya ambles 1,3%, bertengger di angka USD 68.100. Tapi jangan buru-buru panik. Analis justru melihat posisi saat ini masih cukup kuat, karena BTC bertahan di support kunci USD 68.000 dan moving average 20 hari. Kalau level ini nggak jebol, peluang untuk rally menuju USD 71.000 bahkan USD 73.000 masih terbuka lebar.
Namun begitu, sentimen pasar secara keseluruhan masih kelabu. Total kapitalisasi pasar kripto ikut merosot 1,3%, tinggal USD 2,31 triliun. Dominasi Bitcoin sendiri tetap kokoh di level 59%.
Lalu, apa yang bikin pasar ciut nyali? Konflik di Timur Tengah masih jadi momok menakutkan. Harga minyak melesat ke atas USD 75 per barel setelah serangan AS dan Israel ke Iran berlanjut. Situasi yang makin panas ini bikin investor global memilih main aman, menjauhi aset berisiko tinggi.
Di tengah tekanan itu, kemampuan Bitcoin bertahan di USD 68.000 pada Selasa kemarin patut diacungi jempol. Sebelumnya, aset kripto andalan ini sempat nyaris sentuh USD 70.000 lho.
Panji Yudha, Financial Expert Ajaib, bilang pasar kripto memang sedang memangkas sebagian kenaikan dari awal pekan. "Ini terjadi di tengah konflik Timur Tengah yang masih berlangsung," ujarnya.
Faktor lain yang perlu diawasi adalah dolar AS yang semakin perkasa. Indeks dolar (DXY) merangkak naik ke 99,4 dari 96.6 dalam tiga pekan terakhir. Kenaikan ini menunjukkan banyak investor yang kabur ke aset safe haven seperti kas atau obligasi pemerintah. Dan sejarah membuktikan, saat dolar menguat, Bitcoin biasanya kesulitan untuk naik.
Tapi, ada juga kabar baik yang datang dari arus dana institusi. Pada Senin lalu, ETF Bitcoin spot malah mencatat aliran dana masuk bersih sebesar USD 458,19 juta! BlackRock jadi pemimpin dengan dana masuk USD 263,2 juta ke produk IBIT-nya. Yang menarik, nggak ada satu pun ETF yang mengalami outflow hari itu. Artinya, minat investor besar tetap solid meski harga bergejolak.
Data mingguan dari SoSoValue juga memberi angin segar. Setelah lima pekan berturut-turut ditinggal dana, ETF Bitcoin spot akhirnya membukukan net inflow mingguan sebesar USD 787,31 juta. Tren yang patut disyukuri.
Di sisi lain, perkembangan politik dan regulasi juga berdenyut. Presiden Donald Trump bersikukuh AS akan terus meningkatkan tekanan terhadap Iran. Sementara itu, dari dalam negeri AS sendiri, negara bagian Indiana membuat langkah berani. Mereka resmi mengesahkan aturan yang memperbolehkan investasi Bitcoin dan aset kripto lainnya dalam program pensiun pegawai negeri. Mekanismenya melalui skema rekana mandiri atau self-directed account.
Kebijakan Indiana ini bisa jadi pintu pembuka. Peluang untuk eksposur aset digital di tingkat negara bagian lain di AS kini terlihat lebih luas.
Jadi, pasar memang lagi diwarnai ketegangan geopolitik dan penguatan dolar. Tapi di balik itu, minat institusi yang bertahan dan perkembangan regulasi yang positif bisa jadi penopang untuk pergerakan Bitcoin ke depan. Semuanya tergantung pada apakah support kunci itu mampu bertahan dari gempuran.
Artikel Terkait
Timnas U-17 Hadapi Laga Hidup-Mati Lawan Vietnam demi Tiket Semifinal
Kepala DKP DKI Pastikan 7 Ton Ikan Sapu-sapu Dimusnahkan, Tak Ada Penyalahgunaan
Rano Karno: Kemajuan Jakarta Bukan Hanya Soal Infrastruktur, Tapi Kualitas Manusia
Iran Perbarui Data Korban Tewas, 3.400 Orang Gugur dalam Konflik dengan AS dan Israel