IHSG Terperosok 43 Poin, Ketegangan Timur Tengah Tekan Pasar

- Rabu, 04 Maret 2026 | 10:00 WIB
IHSG Terperosok 43 Poin, Ketegangan Timur Tengah Tekan Pasar

Jakarta, Rabu pagi ini, pasar saham kita langsung terperosok ke zona merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan penurunan cukup signifikan, 43 poin lebih tepatnya, sehingga berada di level 7.896. Suasana muram ini tak hanya melanda indeks utama, karena LQ45 kumpulan saham-saham unggulan ikut terseret, turun 0,41 persen ke posisi 802.

Lalu, apa yang terjadi? Sentimen global masih jadi momok yang menghantui. Rasanya, pelaku pasar masih belum bisa benar-benar lega dan memilih untuk berjaga-jaga.

Proyeksi Masih Lesu, Timur Tengah Jadi Sorotan

Nico dari Pilarmas Investindo Sekuritas memproyeksikan tekanan masih akan berlanjut hari ini. Menurutnya, mata investor masih tertuju ke Timur Tengah, mengawasi setiap perkembangan konflik antara Iran, AS, dan Israel yang berpotensi memicu eskalasi lebih luas.

"Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 7.860- 8.150," ujar Nico.

Pernyataan Presiden AS Donald Trump soal jaminan keamanan untuk kapal tanker di Selat Hormuz sempat memberi angin segar. Kebijakan itu jelas bertujuan mencegah krisis energi dan menjaga distribusi global agar tidak macet. Harapannya, langkah ini bisa meredam kekhawatiran inflasi akibat harga energi yang melonjak.

Namun begitu, efeknya terbatas. Kekhawatiran itu ternyata lebih kuat.

"Perang masih masih berlanjut, dan menurut kami pelaku pasar dan investor masih memiliki perspektif negatif terhadap hal tersebut, sehingga masih mendorong pasar saham dan obligasi global mengalami penurunan," tambah Nico menjelaskan.

Jadi, ke mana arah IHSG? Secara teknikal, pergerakannya diperkirakan akan terbatas di antara level 7.860 sebagai support dan 8.150 sebagai resistance. Dua area itu kini jadi patokan penting bagi investor yang bermain jangka pendek, menentukan kapan masuk atau keluar.

Singkatnya, pasar masih menunggu dan waspada. Ketegangan geopolitik masih menjadi dalang utama di balik volatilitas yang kita saksikan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar