Menurut paparannya, serangan itu jauh dari kata manusiawi. Alih-alih hanya menyasar target militer, gempuran rudal justru menghancurkan infrastruktur vital warga sipil. Korban berjatuhan, dan yang paling banyak menjadi korban adalah kelompok rentan: perempuan dan anak-anak.
Gambaran kerusakannya sungguh mengerikan. Fasilitas kesehatan luluh lantak. Gedung-gedung sekolah dasar pun tak luput dari hantaman. Boroujerdi menyoroti sebuah ironi pahit: di saat seharusnya ada gencatan atau paling tidak penghormatan pada bulan suci, yang terjadi justru eskalasi kekerasan yang brutal. Serangan ini, bagi Iran, adalah bukti nyata ketidakpedulian koalisi tersebut terhadap nilai-nilai kemanusiaan paling dasar.
Nuansa narasinya jelas: ini bukan sekadar konflik militer biasa. Ini tentang serangan di waktu yang sakral, yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat sipil yang tidak bersenjata.
Artikel Terkait
Satgas Cartenz Ungkap Peran Anggota KKB dalam Serangkaian Penembakan di Papua
Medvedev Peringatkan Kebijakan Trump Bisa Picu Perang Dunia III
Tiga Pejudi Sabung Ayam Masih Hilang Usai Terjun ke Sungai Ketiwon
FN Pordasi Gencarkan Sosialisasi dan Kompetisi Empat Cabang Berkuda