Menurut Bahlil, laporan yang disampaikannya kepada Presiden pagi tadi memang fokus pada situasi geopolitik terkini. Dampak penutupan Selat Hormuz terhadap sektor energi jadi perhatian khusus.
“Karena ini kita antisipasi tentang pasokan minyak dunia. Bagaimanapun, kita masih melakukan impor 1 juta barel per hari,”
katanya menjelaskan alasan kewaspadaan itu.
Langkah selanjutnya? Rapat koordinasi dengan Dewan Energi Nasional (DEN) akan segera digelar. Tujuannya jelas: merumuskan strategi dan langkah antisipatif untuk menghadapi dampak jangka panjang konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel ini.
Intinya, pemerintah berjanji akan tetap siaga. Melindungi kepentingan nasional dan memastikan energi tersedia untuk rakyat, di tengah ketidakpastian global yang makin rumit ini, adalah prioritas utama.
Penulis: Ricardo Julio | Editor: Redaksi TVRINews
Artikel Terkait
Tiga Pejudi Sabung Ayam Masih Hilang Usai Terjun ke Sungai Ketiwon
FN Pordasi Gencarkan Sosialisasi dan Kompetisi Empat Cabang Berkuda
Serangan AS-Israel Tewaskan 555 Warga Sipil Iran, 200 di Antaranya Anak-anak
Perbasi Peringatkan Masyarakat Soal Maraknya Penipuan Atas Nama Organisasi