Di tengah ramainya pembicaraan soal impor beras, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan angkat bicara. Ia menegaskan, beras yang bakal didatangkan dari Amerika Serikat itu bukan jenis sembarangan. "Oh yang beras, itu mengenai beras khusus," ujar Zulhas, usai menghadiri rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin lalu.
Menurutnya, beras impor ini punya spesifikasi khusus. Mirip seperti beras Jepang yang harganya selangit dan biasanya cuma dipakai di restoran-restoran tertentu. "Kita yang jelas bukan beras yang buat makanan kita," tegasnya.
Ia lalu memberi contoh. Ada juga beras khusus untuk orang dengan kondisi kesehatan tertentu, misalnya penderita diabetes. Intinya, komoditas ini sama sekali tidak ditujukan untuk memenuhi pangan sehari-hari masyarakat kebanyakan.
Volume impornya sendiri terbilang kecil, cuma 1.000 ton. Ini pun masuk dalam skema kerja sama dagang timbal balik atau Agreement of Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan AS. Jadi, lebih ke soal pemenuhan komitmen dan kebutuhan niche.
Praktik semacam ini sebenarnya sudah biasa. Indonesia juga punya perjanjian serupa dengan Jepang. Toh, restoran Jepang di sini butuh beras jenis tertentu yang karakternya beda dengan beras lokal. Kalau dipaksakan tanam di dalam negeri? Bisa-bisa harganya jadi tidak terkendali.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 5,0 dan 5,1 Guncang Maluku Barat Daya dan Laut Banda, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Trump Buka Kemungkinan Kirim Pasukan Darat ke Iran Jika Terpilih Kembali
Mentan Perketat Koordinasi BRMP untuk Pacu Kemandirian Pangan di Papua
Ayatollah Alireza Arafi Ditunjuk Masuk Dewan Kepemimpinan Sementara Iran