Lalu ada tantangan lokal yang tak kalah pelik. Sebagai daerah perbatasan dengan Malaysia, Riau jadi pintu masuk rawan untuk peredaran narkoba dan kejahatan lintas negara. Belum lagi fenomena sosial seperti geng motor yang melibatkan anak-anak. Semua ini, diakui Hengki, butuh perhatian ekstra.
“Pola kejahatan kini telah berubah dari konvensional menjadi digital,” tambahnya. Tingginya penggunaan internet memicu maraknya kejahatan siber dan penyalahgunaan media sosial. “Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk melindungi generasi muda,” tegasnya.
Di sisi lain, kegiatan ini sendiri sebenarnya sudah jadi simbol. Sebuah gambaran soliditas antara TNI, Polri, dan Pemkab Kampar. Kehadiran personel TNI dalam acara itu bukan sekadar formalitas, melainkan penegasan komitmen untuk pengamanan wilayah yang benar-benar terintegrasi.
Rangkaian acara akhirnya ditutup dengan nuansa kekeluargaan. Mereka berbuka puasa bersama, lalu salat Magrib berjamaah di Masjid Al-Ikhlas. Makan malam pun dilanjutkan dalam situasi yang aman dan penuh keakraban. Sebuah penutup yang sederhana, tapi sarat makna.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 5,0 dan 5,1 Guncang Maluku Barat Daya dan Laut Banda, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Trump Buka Kemungkinan Kirim Pasukan Darat ke Iran Jika Terpilih Kembali
Mentan Perketat Koordinasi BRMP untuk Pacu Kemandirian Pangan di Papua
Ayatollah Alireza Arafi Ditunjuk Masuk Dewan Kepemimpinan Sementara Iran