Ledakan mengguncang Teheran pagi tadi. Menurut laporan Reuters, serangkaian serangan yang diklaim sebagai aksi militer pendahuluan Israel telah mengubah peta ketegangan di Timur Tengah dalam sekejap. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dengan tegas menyebut operasi ini sebagai langkah yang tak terelakkan.
"Ini adalah operasi yang diperlukan untuk membongkar infrastruktur nuklir dan rudal Iran," ujarnya.
Jendela diplomasi yang sempat terbuka di bulan Februari, tampaknya, sudah hancur berantakan. Sekarang, semua mata tertuju pada ancaman pembalasan Iran. Ancaman itu bukan lagi isapan jempol Teheran sudah sering kali menyebut akan menargetkan pangkalan AS atau fasilitas energi milik negara-negara tetangga di Teluk. Risiko perang regional yang lebih luas tiba-tiba terasa sangat nyata, dan itu mengancam jalur transit minyak paling vital di dunia.
Di tengah kepanikan ini, para raksasa minyak dunia bergerak. Delegasi OPEC mengkonfirmasi akan menggelar pertemuan darurat hari Minggu ini. Agendanya? Mereka akan mempertimbangkan peningkatan pasokan Minyak Brent Berjangka yang jauh lebih besar dari rencana semula. Sebelum berita serangan ini beredar, aliansi yang dipimpin Saudi itu hanya akan menaikkan produksi secara moderat mulai April. Tapi situasi sudah berubah total.
Artikel Terkait
Serangan AS-Israel Tewaskan 18 Warga di Lamerd, Mayoritas Anak-Anak
Otorita IKN Bagikan 1.000 Mushaf dan Kurma Raja Salman Sambut Ramadan di Samboja
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas di Tengah Eskalasi Perang dengan AS dan Israel
Rusia Kecam Serangan AS-Israel ke Iran sebagai Agresi di Sidang DK PBB