Di sisi lain, ada capaian konkret lain yang patut disorot. Angka stunting di Jawa Timur berhasil ditekan hingga 14,7 persen. Angka ini lebih baik ketimbang rata-rata nasional yang masih di 19,8 persen. Capaian ini menunjukkan komitmen daerah yang tak main-main dalam mendukung target pemerintah pusat.
Namun begitu, Maria juga menyoroti hal-hal yang masih perlu diperkuat. Ia menekankan delapan fungsi keluarga, dengan fungsi keagamaan sebagai pondasi utama. Ia juga mengingatkan bahwa 60 persen sampah harian ternyata berasal dari rumah tangga. Karena itu, edukasi pengelolaan sampah berbasis keluarga kini jadi isu strategis yang tak bisa diabaikan.
Persoalan lain yang menggelayuti adalah perkawinan anak. Data mencatat, masih ada sekitar 3.900 kasus di Jawa Timur. Pernikahan di usia terlalu muda, di bawah 19 tahun, berisiko meningkatkan stunting, angka perceraian, dan melemahkan ketahanan keluarga secara keseluruhan.
Untuk menangani ini, BKKBN memperkuat intervensi lewat beberapa program. Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) dan Bina Keluarga Remaja digiatkan, diiringi pendampingan khusus bagi keluarga-keluarga yang dianggap berisiko. Harapannya jelas: menekan angka perkawinan anak dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya perencanaan berkeluarga yang matang.
Artikel Terkait
KBRI Doha Imbau WNI di Qatar Waspada Usai Serangan AS-Israel ke Iran
Iran Balas Serangan, Hantam Pangkalan AS di Bahrain dan Sejumlah Negara Teluk
Ustaz Zacky Mirza Ingatkan Ramadan Momentum Perbaiki Silaturahmi di Bogor
Polda Sumsel Gelar Aksi Bersih Lingkungan BELIDA Dukung Program ASRI