Surabaya – Di sebuah ruang rapat yang ramai, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (BKKBN) Jawa Timur menggelar evaluasi. Agenda utamanya? Mengevaluasi Program Bangga Kencana untuk tahun 2025. Tema yang diusung adalah penguatan sinergi antara perwakilan provinsi dengan dinas-dinas KB di kabupaten dan kota se-Jawa Timur. Acara ini jelas bukan sekadar formalitas belaka, melainkan momentum krusial untuk mengukur capaian sekaligus merajut kembali kolaborasi yang ada.
Hadir dalam pertemuan itu, Kepala Perwakilan BKKBN Jatim yang juga Plt. Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat, Dra. Maria Ernawati. Tak ketinggalan, Pj. Kepala Perwakilan Sukamto dan Sekretaris BKKBN Jatim, Ghana Renaldi Pasca Surya, beserta sejumlah pejabat lainnya. Mereka duduk bersama para Kepala Dinas KB dari 38 wilayah, dengan Prof. Dr. Lutfi Agus Salim memandu jalannya diskusi. Pertemuan ini juga punya makna khusus: menjadi momen purna bakti untuk Maria Ernawati setelah memimpin program tersebut.
Dalam sambutannya, Maria langsung menekankan tujuan pertemuan. Ia ingin ada evaluasi jujur dan perumusan langkah strategis ke depan. Menurutnya, berbagai target Bangga Kencana di Jawa Timur sudah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.
“Tapi, keberhasilan ini bukan cuma kerja BKKBN semata,” ujar Maria, Jumat (27/2/2026).
“Ini buah dari sinergi dan kolaborasi yang luar biasa antara kami di provinsi dengan rekan-rekan di OPD KB kabupaten/kota. Dari situlah prestasi pengelolaan program ini lahir.”
Ia lalu memaparkan dua fokus utama yang terus digarap. Pertama, soal stabilitas demografi. Di Jatim, angka Total Fertility Rate (TFR) sudah mencapai 1,96, sebuah indikator yang dinilai sudah stabil. Fokus kedua adalah pembangunan keluarga berbasis siklus hidup, yang pendampingannya dilakukan mulai dari balita, remaja, sampai lansia. Semua ini, klaim Maria, telah memenuhi target.
Di sisi lain, ada capaian konkret lain yang patut disorot. Angka stunting di Jawa Timur berhasil ditekan hingga 14,7 persen. Angka ini lebih baik ketimbang rata-rata nasional yang masih di 19,8 persen. Capaian ini menunjukkan komitmen daerah yang tak main-main dalam mendukung target pemerintah pusat.
Namun begitu, Maria juga menyoroti hal-hal yang masih perlu diperkuat. Ia menekankan delapan fungsi keluarga, dengan fungsi keagamaan sebagai pondasi utama. Ia juga mengingatkan bahwa 60 persen sampah harian ternyata berasal dari rumah tangga. Karena itu, edukasi pengelolaan sampah berbasis keluarga kini jadi isu strategis yang tak bisa diabaikan.
“Kalau pondasi keluarganya kuat, terutama dari sisi agama, maka akan lahir generasi berakhlak baik dan ketahanan keluarga yang kokoh,” tegasnya. “Dari keluarga yang kuat, barulah kita bisa membangun bangsa yang luar biasa.”
Persoalan lain yang menggelayuti adalah perkawinan anak. Data mencatat, masih ada sekitar 3.900 kasus di Jawa Timur. Pernikahan di usia terlalu muda, di bawah 19 tahun, berisiko meningkatkan stunting, angka perceraian, dan melemahkan ketahanan keluarga secara keseluruhan.
Untuk menangani ini, BKKBN memperkuat intervensi lewat beberapa program. Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) dan Bina Keluarga Remaja digiatkan, diiringi pendampingan khusus bagi keluarga-keluarga yang dianggap berisiko. Harapannya jelas: menekan angka perkawinan anak dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya perencanaan berkeluarga yang matang.
Melalui rapat evaluasi ini, nampaknya ada tekad bersama. BKKBN Jatim bersama 38 dinas KB kabupaten/kota berkomitmen untuk memperkuat konsolidasi. Strategi akan diselaraskan agar Program Bangga Kencana 2025 nanti bisa lebih efektif, adaptif, dan yang paling penting, benar-benar terasa dampaknya oleh masyarakat.
Artikel Terkait
Wakil Ketua DPR Sari Yuliati: Indonesia Pacu Pasar Karbon Berintegritas Tinggi di Forum Dunia
MK Tolak Gugatan Larangan Keluarga Pejabat Maju di Pilpres
Polisi Ungkap Video Tawuran Pelajar di Pandeglang Hanya untuk Konten Media Sosial
APBD Makassar Terserap 11,07%, Wali Kota Tekankan Kualitas Hasil Lebih Penting dari Kecepatan Anggaran