Kolaborasi dengan Waste4Change dan Z Bio ini krusial. Bayangkan saja, konser musik skala besar dengan durasi setengah hari berpotensi menghasilkan sampah hingga 12.500 kilogram. Makanya, pemilahan dari sumber jadi langkah penting agar sampah tidak tercampur dan membebani TPA.
Hasilnya? Dari total sekitar 25.000 penonton di tiga kota, tercatat 1.754 kilogram sampah berhasil dialihkan dari TPA. Yang cukup signifikan, upaya ini berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca setara 6.600 kilogram CO₂e. Angka itu kira-kira setara dengan 700.000 kali pengisian daya ponsel, atau jarak tempuh mobil bensin sejauh 33.000 hingga 40.000 kilometer.
Pandu Priyambodo, Manager Marketing Communication & Partnership Waste4Change, mengapresiasi langkah XL Axiata.
"Kami apresiasi komitmen mereka sebagai penyedia telekomunikasi pertama yang menyelenggarakan konser serentak di tiga kota dengan manajemen sampah yang bertanggung jawab. Kolaborasi ini tidak hanya mencegah sampah berakhir di TPA, tapi juga mengurangi lebih dari 6,6 ton emisi CO₂, setara dengan menumbuhkan lebih dari 300 pohon dalam setahun," jelas Pandu.
Fredric Tanuwijoyo, Co-founder Z Bio, juga menyoroti model ekonomi sirkular yang diterapkan di Bali.
"Limbah makanan dari venue ATLAS kami olah jadi pakan ternak dan pupuk organik, lalu disalurkan ke petani lokal di Bali. Model seperti ini tidak hanya mengatasi masalah sampah, tetapi juga mendorong praktik pertanian regeneratif," kata Fredric.
Jadi, lewat gelaran musik yang riuh ini, XL Axiata rupanya sedang menyelipkan pesan besar: inovasi teknologi dan konektivitas yang andal harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Artikel Terkait
Jadwal Buka Puasa Jakarta dan Kepulauan Seribu Hari Ini, Sabtu 28 Februari 2026
Ibas Soroti Perlindungan Kesehatan bagi Pelaku UMKM dalam Sistem JKN
Dokter Ayu Widyaningrum Raih Tiga Rekor MURI Baru dari Prestasi Medis dan Aksi Sosial
KPK Geledah Lokasi di Pati untuk Perkuat Bukti Kasus Pemerasan Perangkat Desa