Suasana pagi di Iran, Sabtu (28/2/2026), tiba-tiba berubah mencekam. Dentuman keras mengguncang sejumlah kota, dimulai dari ibu kota Teheran. Tak lama setelahnya, laporan-laporan serupa berdatangan dari wilayah lain.
Kantor berita Fars, misalnya, menyebut ledakan juga terjadi di Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah. Situasinya benar-benar kacau.
Di Teheran sendiri, situasinya terlihat parah. Menurut laporan yang sama, beberapa rudal menghantam kawasan strategis seperti Jalan Universitas dan daerah sekitar Republik. Dua lokasi lain di ibu kota juga dilaporkan terdengar ledakan. Gambar-gambar yang beredar cepat di media sosial memperlihatkan kepulan asap tebal membubung di langit pusat kota, menandai titik-titik serangan.
Lalu, dari mana serangan ini berasal? Sumbernya jelas: Israel. Namun, ada aktor lain yang kini secara terbuka mengaku terlibat.
Melalui sebuah video di platform Truth Social, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pengumuman mengejutkan. Ia menyatakan AS telah memulai apa yang disebutnya "operasi tempur besar-besaran di Iran."
"Operasi tempur besar-besaran di Iran sudah dimulai," ujarnya.
Rupanya, ini bukan sekadar pernyataan. Menurut sejumlah pejabat AS, serangan dilancarkan dari berbagai pangkalan militer mereka yang tersebar di Timur Tengah. Bahkan, satu kapal induk ikut serta melepaskan tembakan. Skala serangan kali ini diklaim jauh lebih masif dibanding aksi AS pada Juni 2025 silam, yang waktu itu fokus menarget fasilitas nuklir Iran.
Menanggapi serangan ini, pihak Iran tentu tidak tinggal diam. Pejabatnya dengan tegas menyatakan bahwa Teheran sedang mempersiapkan serangan balasan. Sasaran mereka jelas: Amerika Serikat dan Israel. Ancaman itu menggantung, membuat ketegangan di kawasan yang sudah panas ini semakin memuncak.
Artikel Terkait
Negosiasi Impor LPG dari Rusia Masih Alot di Tengah Lonjakan Kebutuhan Nasional
Prabowo Terbitkan Tiga Aturan Baru untuk Perkuat Ketahanan Pangan
Mendikti Siapkan Sinergi Nasional Tangani Kekerasan Seksual di Kampus
OpenAI Siapkan Dana Lebih dari US$20 Miliar untuk Amankan Akses Chip Cerebras