Angka indeks literasi Al-Qur'an di Indonesia memang sudah masuk kategori tinggi, di angka 66,04 menurut survei Kemenag tahun lalu. Tapi, jangan senang dulu. Di balik capaian positif itu, masih ada pekerjaan rumah yang besar. Survei yang sama mengungkap, kemampuan membaca sesuai tajwid dan kelancaran masih jadi titik lemah bagi banyak orang.
Persoalan ini ternyata tak cuma menghinggapi anak-anak. Banyak juga kalangan dewasa yang sebenarnya ingin memperbaiki bacaan mereka, tapi mungkin merasa malu atau tidak tahu harus mulai dari mana.
Nah, menjawab kegelisahan itu, Kahf baru saja meluncurkan sesuatu yang menarik: IQRO' Redesign Project. Ini adalah penyegaran visual untuk buku legendaris karya KH As'ad Humam, yang puluhan tahun jadi pegangan wajib belajar baca Qur'an. Proyek ini pertama kali diperkenalkan dalam acara Kahf Ramadan Gathering.
Yang perlu ditekankan, ini bukan perubahan metode. Sama sekali bukan. Ini cuma pembaruan pendekatan visual biar lebih nyambung dengan konteks kekinian. Sistem pembelajarannya yang sudah dikenal luas di Nusantara dan Asia Tenggara itu tetap dipertahankan.
Brand Representative Kahf, Billy Dharmawan, menjelaskan maksud di balik inisiatif ini.
"Kolaborasi ini hadir sebagai ajakan. Ajakan untuk kembali memulai, atau melanjutkan perjalanan membaca Al-Qur'an. Kami paham, banyak orang dewasa yang ragu dan takut di-judge kalau mau belajar dari nol," ujarnya dalam keterangan tertulis akhir Februari lalu.
"Karena itu, kami ingin menghadirkannya dalam format yang lebih kontekstual tanpa mengubah ruh aslinya," sambung Billy.
Metode IQRO' sendiri sudah ada sejak era 80-an. Jutaan orang Indonesia berhutang budi pada buku ini untuk mengenal huruf hijaiyah dan membaca a-ba-ta dengan cara yang sistematis. Dalam proses rebranding, Kahf berusaha keras menjaga warisan berharga itu. Khat tulisan tangan asli KH As'ad Humam tetap dipertahankan sebagai elemen utama, biar nilai historis dan keasliannya nggak luntur.
Edisi yang dirilis ini mengacu pada format akselerasi, IQRO' Klasikal, yang merangkum materi jilid 1 sampai 6 jadi lebih ringkas. Rilis ini cuma tahap awal, rencananya akan ada pengembangan lebih lanjut di periode berikutnya.
Proyek besar ini tentu bukan kerja Kahf sendirian. Mereka berkolaborasi dengan IQRO' Center Yogyakarta, dengan pendampingan materi dari Balai Litbang LPTQ Nasional dan desain dari sebuah brand consultant ternama.
Creative Representative IQRO' Center, Saniko, menyambut baik kolaborasi ini.
"Inisiasi ini tujuannya sejalan dengan semangat alm. KH As'ad Humam dan IQRO' Center dalam memberantas buta huruf Al-Qur'an, khususnya untuk generasi muda. Dengan niat baik itu, kami mendukung. Harapannya, semakin banyak yang tergerak untuk terus belajar dan memperbaiki bacaannya," kata Saniko.
Lalu, seperti apa wujud penyegarannya? Pendekatan desainnya kontemporer, pakai format zine, dengan tipografi yang dinamis dan tata letak fleksibel. Tapi sekali lagi, struktur pengenalan huruf dan kaidah bacaannya nggak diutak-atik. Tetap mengikuti metode orisinal.
Brand Designer yang terlibat, Ibnu Hafiz Fadhilah, membeberkan proses kreatifnya.
"Kami mendekonstruksi buku IQRO' Klasikal ini dengan sangat hati-hati. Pakai pendekatan 'type as image' karena Khat aslinya sendiri sudah punya karakter yang sangat kuat," jelasnya.
"Simbol 3 santri dan foto KH As'ad Humam yang ikonik itu juga kami pertahankan. Intinya, kami ingin memadukan dua hal: memodernisasi IQRO' tanpa menghilangkan sisi otentiknya, sekaligus mengekspresikan desain Kahf yang kontekstual," sambung Ibnu.
Dengan konsep ini, pesannya jelas: IQRO' bukan cuma buku untuk anak TK atau TPA. Ini adalah sarana pembelajaran seumur hidup untuk siapa saja yang ingin fondasi baca Qur'annya lebih kuat.
Sebagai bagian dari gerakan 'Bener Bareng' di Ramadan, Kahf membawa IQRO' Redesign ini ke ruang publik dan komunitas. Bahkan, mereka punya misi untuk memperkenalkannya secara global. Aktivasi sudah dimulai dari Makkah dan Madinah, dan rencananya akan berlanjut ke kota-kota seperti London, New York, hingga Chiba lewat komunitas Muslim setempat.
Langkah itu sekaligus menandai komitmen jangka panjang Kahf. Mereka ingin memperluas semangat literasi Al-Qur'an secara lebih inklusif, menjangkau lintas generasi dan juga lintas negara. Upaya yang patut dicermati, bukan sekadar proyek musiman.
Artikel Terkait
Wakil Ketua DPR Sari Yuliati: Indonesia Pacu Pasar Karbon Berintegritas Tinggi di Forum Dunia
Ketua Ombudsman Ditangkap Kejagung Terkait Dugaan Korupsi Tambang Nikel
MK Tolak Gugatan Larangan Keluarga Pejabat Maju di Pilpres
Polisi Ungkap Video Tawuran Pelajar di Pandeglang Hanya untuk Konten Media Sosial