Video Trump Bereaksi pada 2016 Didistorsi dengan Suara Allahu Akbar

- Jumat, 27 Februari 2026 | 18:30 WIB
Video Trump Bereaksi pada 2016 Didistorsi dengan Suara Allahu Akbar

Video itu beredar luas sepekan terakhir. Tampak Presiden AS Donald Trump tiba-tiba memalingkan badan dari podium di atas panggung. Latar suaranya? Sebuah teriakan "Allahu Akbar".

Teks yang menyertai video viral itu klaim, "Trump panik pas pidato ada yang teriak Allahuakbar. Pihak keamanan gercep evakuasi."

Di Instagram, tayangan ini meledak. Sudah ditonton 4,6 juta kali, disukai 150 ribu orang, dan ribuan komentar membanjir. Banyak yang langsung percaya begitu saja dengan narasi yang dibawa.

Nah, tim Cek Fakta DW Indonesia kemudian menelusuri. Benarkah klaim dalam video itu?

Singkatnya: Salah. Bukan itu konteks sebenarnya.

Mengurai Benang Kusut Video Viral

Pertama-tama, kami pastikan dulu video ini bukan bikinan AI. Setelah dicek pakai platform Hive Moderation, hasilnya jelas: peluang buatan mesin cuma 0%. Videonya asli. Tapi soal audionya, kita bahas belakangan.

Langkah selanjutnya cari konteks. Kami coba masukkan kata kunci "Trump flinch security" di mesin pencari. Dan bingo! Muncul video dengan gambar persis sama dari akun CBS News di YouTube.

Ternyata, rekaman itu berasal dari kampanye Trump di Ohio, Maret 2016. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukan ada teriakan takbir. Trump bereaksi karena seorang pendukung berusaha naik ke panggung. Itu sebabnya petugas keamanan langsung bergerak cepat mengamankan dia.

Kami juga pakai Google Reverse Image. Hasilnya mengarah ke laporan fact-check AFP yang mengonfirmasi hal sama dan menautkan ke video asli.

Nah, ini poin krusialnya. Dalam video asli CBS itu, tidak ada suara "Allahu Akbar" sama sekali. Lalu dari mana suara itu muncul? Analisis platform Deepfake Total menunjukkan peluang suara itu buatan AI sekitar 25%. Bisa jadi, suara itu sengaja disisipkan untuk memanipulasi.

Hoaks yang Tak Pernah Mati

Kalau kamu cari "Trump Allahuakbar", ketahuan deh umur hoaks ini. Video serupa ternyata sudah beredar sembilan tahun lalu di Facebook dan sudah berulang kali dibantah media. Tapi di 2025, dia hidup lagi. Bahkan di akhir Februari 2026 ini, kembali viral.

Munculnya lagi hoaks ini kebetulan banget. Pas lagi ramai-ramainya pemberitaan soal pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Trump di AS, terkait rapat perdana Board of Peace tanggal 19 Februari 2026.

Menurut Aribowo Sasmito, Co-founder dan Fact-check Analyst Mafindo, hoaks semacam ini memang suka "numpang tren".

"Tujuannya ya cari perhatian. Kalau isu Trump ramai lagi, hoaks ini bisa dihidupkan ulang," ujar Aribowo dalam wawancara telepon dengan DW Indonesia.

Dia menduga motif penyebar bisa beragam, dari sekadar cari popularitas sampai ingin dapat keuntungan finansial.

Di sisi lain, Rizal Nova Mujahid, Lead Analyst Drone Emprit, melihat pola baru. Konten disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK) sekarang juga disebar oleh apa yang dia sebut "homeless media" akun-akun tanpa afiliasi jelas seperti pengunggah video ini.

"Saya baru lihat model begini. Biasanya hoaks cuma beredar di kelompok tertentu," kata Rizal via panggilan video.
"Pakai kata 'Allahu Akbar' gitu, ya jelas nggak akan diterima sama yang nggak neriakkan itu, atau sama orang yang kritis," tambahnya. Dia meyakini literasi digital punya peran besar di sini.

Rizal juga menilai sentimen negatif publik terhadap Trump, Board of Peace, dan perjanjian dagang Indonesia-AS jadi pemicu. Sentimen agama, terutama terkait isu Gaza, dinilainya lebih kuat daripada sentimen kemanusiaan dalam kasus ini.

"Wajar kalau ada yang coba masukkan ketidaksetujuannya terhadap keputusan Indonesia di Board of Peace lewat narasi-narasi kayak gini," tutur Rizal.

Pause Sebelum Share

"Seeing is not only believing. Apalagi di zaman AI sekarang," tegas Aribowo. Dia mengingatkan, kita makin rentan percaya video editan canggih. Karena itu, selalu cek kredibilitas sumber.

"Kalau sumbernya bukan media kredibel atau punya reputasi bagus, kita harus skeptis," sarannya.

Rizal punya saran praktis. Pertama dan paling penting: jeda.

"Pause dulu. Tahan jempol untuk like, share, atau komentar. Lalu verifikasi," katanya.

Verifikasi itu mencakup narasi, siapa aktor di video, dan waktu kejadian. Sekarang alat untuk cek video, audio, dan gambar sudah banyak tersedia.

"Kita harus hati-hati. Penyebar hoaks akan selalu mengulang aksinya. Jangan sampai kita jadi korban," pungkas Aribowo mengingatkan.

Editor: Prihardani Purba

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar