Bagi Luhut, jumlah bukan segalanya. "Kita, kalau berkurang 10 ribu orang lagi (wisatawan), itu tidak akan membuat Bali jadi masalah," ujarnya. Bali itu istimewa, dicintai banyak orang. Maka, biarkan yang datang adalah mereka yang benar-benar menghargai keindahan dan ketertiban pulau ini.
Namun begitu, persoalan di Bali tak cuma soal turis. Luhut juga menyoroti kekacauan lain: alih fungsi lahan yang semrawut. Ia mendorong agar pengawasan diperketat, kali ini dengan memanfaatkan teknologi digital. Dengan sistem yang canggih, praktik nakal menyimpan lahan akan semakin sulit dilakukan.
"Masalah ketertiban, alih fungsi lahan, dengan digitalisasi tidak akan bisa lagi bermain-main," jelasnya.
Lalu apa konsekuensinya bagi yang melanggar? "Dan nanti bagaimana kira-kira, mungkin nanti penalti solusinya," tambah Luhut. Ia mengingatkan, mulai sekarang semua pihak harus waspada. Bagi yang nekat mengalihfungsikan lahan secara tidak benar, sanksi sudah menunggu. "Nanti penyesuaian di sini," sambungnya, menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Dua Nelayan Karimun yang Terseret Arus ke Malaysia Berhasil Dievakuasi Tim SAR
Hujan Deras dan Angin Kencang Tumbangkan Pohon dan Rusak Fasilitas di Ruas Tol Jakarta
Suroboyo 10K 2026 Dijadwalkan 7 Juni, Targetkan 3.000 Pelari
Polres Dharmasraya Amankan Lima Pria Terkait Peredaran Sabu di Pulau Punjung