Lalu, bagaimana dengan saham di dalam negeri? Menurut analisis, saham berbasis ekspor dan komoditas dinilai lebih rentan jika ada guncangan negatif. Sebaliknya, sektor defensif dan saham yang orientasinya ke pasar domestik berpotensi jadi pilihan aman saat kondisi ‘risk-off’ melanda.
Perkembangan dari China juga patut dicermati. People’s Bank of China memilih bertahan, mempertahankan Loan Prime Rate untuk tenor satu tahun di 3% dan tenor lima tahun di 3,5%. Kebijakan ini jelas upaya menjaga stabilitas yuan, yang sedang dihantam perlambatan pertumbuhan dan tekanan deflasi. Tapi, ada dilema. Penguatan yuan justru berisiko menekan daya saing ekspor China, di saat tekanan tarif AS makin menjadi.
Kondisi ekonomi China ini penting banget buat Indonesia, mengingat hubungan dagang kita yang erat, terutama di sektor komoditas. Apa yang terjadi di sana, pasti terasa dampaknya di sini.
Melihat perdagangan kemarin, bursa Eropa ditutup dengan kinerja beragam. Euro Stoxx 50 naik tipis 0,10%, sementara FTSE 100 Inggris dan DAX Jerman malah turun sedikit. CAC Prancis naik 0,26%.
Berbeda dengan Eropa, Wall Street justru kompak menguat. Dow Jones naik 0,76%, S&P 500 naik 0,77%, dan Nasdaq melesat 1,04%.
Sementara untuk sesi pagi ini di kawasan Asia, semangat menguat masih terlihat. Indeks Nikkei Jepang melonjak 1,51%, disusul Shanghai yang naik 0,78%. Hang Seng Hong Kong juga naik, meski lebih moderat di 0,37%. Hanya Strait Times Singapura yang tercatat turun sangat tipis, 0,05%.
Artikel Terkait
Kapolri Instruksikan Seluruh Jajaran Tanggapi Setiap Pemberitaan Media
Bea Cukai dan BNN Gagalkan Penyelundupan Ribuan Pil Ekstasi Berkedok Gaun Pengantin
Elemen Masyarakat Deklarasi Dukungan untuk Program Jaga Jakarta Polda Metro Jaya
Wamenpar: Pariwisata Berkelanjutan Jadi Keharusan untuk Tingkatkan Daya Saing Global