Kampus-kampus di Iran kembali ramai oleh suara protes. Mahasiswa menggelar demonstrasi di berbagai universitas, melanjutkan gelombang keresahan yang sempat mereda. Pemerintah, melalui juru bicaranya Fatemeh Mohajerani, mengakui hak mereka untuk berunjuk rasa. Tapi ada pesan tegas yang disampaikan: ada batasan yang tak boleh dilewati.
"Hal-hal sakral dan bendera merupakan dua contoh garis merah yang tidak boleh dilanggar," tegas Mohajerani, seperti dilansir AFP, Selasa (24/2/2026).
“Yang harus kita lindungi dan tidak boleh kita langgar atau menyimpang darinya, bahkan di tengah kemarahan.”
Namun begitu, nada pernyataan itu juga mencoba memahami. Mohajerani mengakui mahasiswa punya luka di hati. Mereka telah melihat pemandangan yang tentu saja mengusik dan memicu amarah. “Kemarahan ini dapat dimengerti,” ujarnya.
Artikel Terkait
Vonis Kasus Korupsi Minyak Rp 285 Triliun Dijadwalkan Kamis Depan
Program Makan Bergizi di Serang Berlanjut, Siswa Terima Paket Bahan Makanan untuk Buka Puasa
Dua Belas Tokoh Elite Daftar sebagai Amicus Curiae Dukung Enam Terdakwa Korupsi Minyak
Menteri Luar Negeri Lebanon Khawatir Infrastruktur Vital Jadi Sasaran Jika Ketegangan Israel-Iran Meledak