Suara tembakan dan ledakan kembali menggema di wilayah timur Kongo. Konflik antara militer nasional dan kelompok pemberontak M23 memanas lagi, memperparah krisis kemanusiaan yang sebenarnya sudah berlangsung bertahun-tahun. Situasinya benar-benar genting.
Dari Brussel, Komisaris Uni Eropa Hadja Lahbib tak ragu menyebut keadaan di lapangan sebagai "katastrofik". Kata itu menggambarkan betapa buruknya kondisi warga sipil yang terjebak di tengah pertempuran.
Namun begitu, dari kubu lain muncul bantahan keras. Corneille Nangaa, pemimpin koalisi yang bersekutu dengan M23, punya pandangan berbeda sama sekali. Menurutnya, justru wilayah-wilayah yang dikendalikan pemerintah pusat lah yang mengalami kondisi terburuk.
“Klaim dari Uni Eropa itu tidak mencerminkan fakta di lapangan,” begitu kurang lebih sanggahnya. Nangaa menilai, situasi kemanusiaan justru lebih mengkhawatirkan di area yang dikuasai Kinshasa.
Di sisi lain, saling tuding mengenai siapa yang melanggar gencatan senjata terus bergulir. Kedua belah pihak saling menyalahkan, membuat upaya perdamaian yang sudah rapuh itu kian sulit diwujudkan. Imbasnya jelas: ribuan warga lagi-lagi harus mengungsi, menambah panjang daftar penderitaan di jantung Afrika ini.
Artikel Terkait
KPK Sita Dua Mobil Porsche dan Belasan Kendaraan Mewah dari Rumah Eks Wamen Imipas Silmy Karim
Kemendagri dan Metro TV Beri Penghargaan ke 24 Pemda di Jawa-Bali atas Kinerja Strategis 2026
Patroli Gabungan Brimob Gagalkan Balap Liar di Jakarta Timur, Satu Pelaku dan Motor Diamankan
Polisi Ringkus Pengedar Obat Keras di Rancabungur, 160 Butir Tramadol dan Triheximer Disita