Eric Dane Tinggalkan Pesan Terakhir untuk Dua Putrinya di Program Netflix

- Minggu, 22 Februari 2026 | 00:00 WIB
Eric Dane Tinggalkan Pesan Terakhir untuk Dua Putrinya di Program Netflix

Jakarta masih berduka. Dunia hiburan, khususnya para penggemar setia serial "Grey's Anatomy", dikejutkan oleh kabar meninggalnya Eric Dane. Aktor yang akrab disapa "McSteamy" itu tutup usia pada Kamis (19/2) lalu, di umur 53 tahun. Perjalanannya melawan penyakit ALS yang menyerang saraf motoriknya sejak April 2025 akhirnya berakhir.

Rasa syok itu belum sepenuhnya reda. Namun, sebuah cuplikan video yang dirilis Netflix lewat akun Instagram @netflix pada Sabtu (21/2) memberikan ruang untuk perpisahan yang lebih personal. Dalam program "Famous Last Words", selama hampir enam menit, Eric Dane menyampaikan pesan terakhirnya. Pesan itu ditujukan untuk kedua putrinya, Billie Beatrice (16) dan Georgia Geraldine (14).

Dia terlihat duduk di kursi roda. Suaranya tegas, meski sesekali tercekat. "Billie dan Georgia, kata-kata ini buat kalian. Aku udah berusaha. Aku kadang tersandung, tapi aku udah berusaha. Pada akhirnya, kita bersenang-senang, kan?" ucapnya.

Pikirannya lalu melayang ke kenangan indah bersama keluarga. Ke pantai Santa Monica, Hawaii, hingga Meksiko. Saat mengingat itu, emosi tak bisa dibendung. "Aku melihat kalian sekarang bermain di laut selama berjam-jam, anak-anak airku. Hari-hari itu adalah surga," tutur Dane dengan haru.

Sebelum mengakhiri, dia berusaha merangkum pelajaran berharga dari perjuangannya melawan ALS. Ada empat hal yang ingin dia wariskan. "Aku ingin memberi tahu kalian empat hal yang aku pelajari dari penyakit ini. Aku harap kalian tidak hanya sebatas mendengarku, tapi juga memahami," harapnya.

Hidup di Masa Sekarang, Bukan yang Lain

Pelajaran pertamanya sederhana namun berat: hiduplah sepenuhnya di masa kini. Dane mengaku sempat terjebak meratapi diri dan merasa malu atas pilihan-pilihan hidupnya. Keraguan itu justru menggerogoti. "‘Aku gak seharusnya kayak gini. Aku gak seharusnya kayak gitu.’ Cukup sudah," katanya.

Baginya, bertahan hidup dari ALS memaksanya tinggal di saat ini. Tapi itu justru sebuah berkah. "Masa lalu dipenuhi penyesalan. Masa depan masih belum pasti. Jadi, kalian harus hidup di masa kini. Masa kini adalah satu-satunya yang kamu miliki. Hargailah itu. Nikmatilah setiap momen."

Cinta yang Menemani

Lalu, dia mendorong anak-anaknya untuk menemukan cinta dalam hal yang mereka tekuni. Bagi Dane, cinta itu adalah akting. Dia menemukannya di usia remaja, dan passion itu tetap menyala bahkan di masa-masa tergelapnya. Meski tubuhnya tak lagi menuruti perintah, hasratnya untuk berakting tak pernah padam.

"Aku masih mencintai pekerjaanku, aku masih menantikannya, aku masih ingin berdiri di depan kamera dan memainkan peranku," ujarnya dengan keyakinan. "Pekerjaanku tidak mendefinisikan diriku, tapi ia membangkitkan semangatku."

Teman yang Hanya 'Hadir'

Pelajaran ketiga adalah tentang pertemanan. Setahun terakhir hidupnya mengajarkan betapa teman sejati adalah segalanya. Dia ingat bagaimana mereka bergantian datang, menemani hal-hal sederhana: makan, menonton bola, mendengarkan musik. Mereka tidak melakukan hal heroik. Mereka hanya ada.

"Temukan orang-orangmu dan biarkan mereka menemukanmu," nasihatnya. "Yang terbaik di antara mereka akan membalas kebaikanmu. Tanpa penilaian, tanpa syarat."

Suaranya semakin dalam. "Mereka tidak melakukan hal-hal istimewa; mereka hanya hadir. Itu hal yang besar. Hanya hadir. Dan cintai teman-temanmu dengan sepenuh hati. Pegang erat mereka. Mereka akan menghiburmu, membimbingmu, membantumu, mendukungmu, dan beberapa di antaranya akan menyelamatkanmu."

Ketangguhan adalah Warisan

Nasihat terakhirnya adalah inti dari perjuangannya: hadapi segala kesulitan dengan ketahanan dan martabat. Inilah yang dia sebut sebagai "kekuatan super"-nya, warisan yang ingin dia tinggalkan untuk Billie dan Georgia.

"Aku harap aku telah menunjukkan bahwa kalian bisa menghadapi apa pun. Kalian bisa menghadapi akhir hidup kalian. Kalian bisa menghadapi neraka dengan penuh martabat. Berjuanglah, Nak, dan tegakkan kepala kalian," tutupnya dengan pesan yang menggema.

Pesan itu kini abadi. Sebuah pengingat dari seorang ayah, sekaligus testimoni terakhir tentang cara menjalani hidup dan menghadapi akhir dengan gagah.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar