Unggahan kontroversial seorang wanita berinisial DS yang menyatakan "cukup saya WNI, anak jangan" tak hanya jadi perbincangan warganet. Kasus ini juga memantik kritik tajam terhadap sistem beasiswa LPDP. Indra Charismiadji, Direktur Eksekutif CERDAS, melihatnya sebagai gejala dari masalah yang lebih dalam.
Menurut Indra, banyak penerima beasiswa LPDP yang sebenarnya tidak merasa punya hutang budi pada negara. Skemanya terkesan seperti bagi-bagi hadiah saja, ikatannya lemah. Alhasil, muncul fenomena awardee yang seperti DS jiwanya tak punya rasa tanggung jawab.
Ia juga menyoroti proses seleksi yang dinilainya kurang ketat. “Bukan dipilih mereka yang benar-benar ingin membangun Indonesia dan berjuang untuk Indonesia,” tambahnya. Persoalan ini, kata Indra, bukanlah hal baru. Sudah terjadi sejak puluhan tahun silam.
Alasannya kerap sederhana: lapangan kerja di dalam negeri yang tak menanti. Mereka pun memilih karir di luar. Untuk itu, Indra menawarkan solusi. Pemerintah harus punya skema yang lebih jelas, mengikat penerima beasiswa dengan menyiapkan posisi kerja setelah mereka lulus.
Model serupa, tuturnya, sudah biasa dipraktikkan negara lain. Saat kuliah dulu, ia melihat rekan-rekan dari Malaysia atau Korea yang mendapat beasiswa negaranya sudah tahu akan bekerja di mana setelah lulus. “Jadi tidak asal. Kalau di sini, yang penting punya ijazah,” ucapnya.
Artikel Terkait
Dubes UEA Ungkap 85% Serangan Iran Arahkan ke Negara Teluk dan Yordania
Presiden Prabowo Resmikan Pabrik Kendaraan Listrik di Magelang
China Perluas Layanan Kereta Cepat untuk Anjing dan Kucing ke 121 Stasiun
Oknum Jaksa Diduga Ancam Satpam dengan Senjata di Sumut, Polisi Usut Tuntas