Pegawai Kelurahan Unggah Dokumen Privasi Rio Haryanto karena Rasa Bangga

- Kamis, 19 Februari 2026 | 12:50 WIB
Pegawai Kelurahan Unggah Dokumen Privasi Rio Haryanto karena Rasa Bangga
Artikel Rewrite

Rupanya, ada cerita di balik unggahan dokumen milik Rio Haryanto oleh seorang pegawai Kelurahan Penumping. Si pegawai, yang disebut sebagai A, ternyata melakukannya karena satu alasan sederhana: rasa bangga.

Kepala BKPSDM Kota Solo, Beni Supartono Putro, memberikan klarifikasi. Menurutnya, A merasa punya kepuasan tersendiri bisa melayani publik figur.

"Dari klarifikasi katanya bangga. Ada kepuasan tersendiri dia melayani publik figur, tapi kebanggaannya itu kemudian berlebihan sampai upload,"

Ungkapan itu disampaikan Beni di kantornya, Kamis lalu. Sayangnya, rasa bangga itu justru berujung kurang tepat.

Soalnya, dokumen yang diunggah itu bersifat privasi. Bukan untuk konsumsi publik. Bayangkan, layanan yang seharusnya dirahasiakan malah tersebar di media sosial. Menurut Beni, hal inilah yang jadi persoalan.

"Jenis layanan yang kemudian bukan untuk publik atau pribadi tapi dishare-kan ke media. Nah, itu yang menurut kami menjadi kurang tepat. Kalau mungkin yang di-upload itu foto dengan yang bersangkutan pada saat menerima pelayanan, saya kira tidak akan ada masalah, ya,"

Dari pengakuan yang diterima, A disebut baru pertama kali melakukan hal seperti ini. Dokumen Rio Haryanto dan surat ahli waris itu dibagikan di akun media sosial pribadinya. Kabarnya, tak lama setelah mengunggah, si pegawai langsung menyadari kesalahan dan menghapusnya.

Tapi, ceritanya belum selesai di situ.

Beni menegaskan bahwa pihaknya masih mendalami kasus ini. Pengakuan A saja tidak cukup. Mereka akan mencocokkannya dengan keterangan dari atasan langsung maupun atasan sebelumnya.

"Kalau berdasarkan pengakuannya, itu ya baru saat itu dan kemudian, tidak berselang lama sudah dihapus sendiri. Yang bersangkutan menyampaikannya seperti itu. Tapi ini kan baru kita dalami. Kita nggak bisa hanya percaya dengan pengakuan, tapi juga kita sandingkan dengan pengakuan dari atasan,"

Kasus ini jadi pengingat. Di era digital, batas antara kebanggaan pribadi dan pelanggaran privasi kadang tipis. Apalagi ketika yang dilayani adalah orang terkenal.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar