Penjualan ORI029 Baru Capai 51% dari Target Rp25 Triliun

- Rabu, 18 Februari 2026 | 13:45 WIB
Penjualan ORI029 Baru Capai 51% dari Target Rp25 Triliun

MURIANETWORK.COM - Penjualan Surat Berharga Negara ritel seri ORI029, yang ditutup hari ini, tercatat belum mencapai target. Berdasarkan data real-time hingga jelang penutupan, penawaran yang masuk baru mencapai Rp12,78 triliun dari target penerbitan sebesar Rp25 triliun. Realisasi ini mengindikasikan minat investor ritel yang lebih rendah dari perkiraan, di tengah berbagai sentimen pasar global dan domestik.

Real-time Penjualan dan Sisa Kuota

Data yang dirilis oleh PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit) menunjukkan, dari total target, masih tersisa kuota senilai Rp12,22 triliun yang belum terserap. Rinciannya, untuk seri ORI029-T3 (tenor 3 tahun) tersisa sekitar 35,4% atau Rp5,31 triliun. Sementara untuk seri ORI029-T6 (tenor 6 tahun), sisa kuotanya lebih besar, yakni 69,1% atau setara Rp6,91 triliun. Dengan kata lain, secara keseluruhan, penjualan baru menyentuh 51,12% dari ambisi pemerintah menghimpun dana.

Analisis Sentimen Pasar yang Mempengaruhi Minat

Lambatnya penyerapan ORI029 ini sebenarnya telah diantisipasi oleh sejumlah analis pasar modal. Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, menyoroti beberapa faktor penyebab. Salah satu sentimen negatif utama berasal dari penurunan outlook kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat Moody's Ratings.

Namun, menurutnya, sentimen itu bukan satu-satunya penyebab. "Apalagi kondisi sekarang tidak hanya dari Moody's, tapi ada beberapa risiko geopolitik yang juga meningkat, yang biasanya mendorong risk premi yang lebih tinggi," ungkapnya.

Sentimen dari dalam negeri juga turut berperan. Kekhawatiran investor muncul menyusul defisit APBN yang sempat melebar, ditambah dengan rencana belanja fiskal pemerintah yang masih agresif tahun ini. Kombinasi faktor ini membuat investor ritel lebih berhati-hati.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar