MURIANETWORK.COM - Penjualan Surat Berharga Negara ritel seri ORI029, yang ditutup hari ini, tercatat belum mencapai target. Berdasarkan data real-time hingga jelang penutupan, penawaran yang masuk baru mencapai Rp12,78 triliun dari target penerbitan sebesar Rp25 triliun. Realisasi ini mengindikasikan minat investor ritel yang lebih rendah dari perkiraan, di tengah berbagai sentimen pasar global dan domestik.
Real-time Penjualan dan Sisa Kuota
Data yang dirilis oleh PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit) menunjukkan, dari total target, masih tersisa kuota senilai Rp12,22 triliun yang belum terserap. Rinciannya, untuk seri ORI029-T3 (tenor 3 tahun) tersisa sekitar 35,4% atau Rp5,31 triliun. Sementara untuk seri ORI029-T6 (tenor 6 tahun), sisa kuotanya lebih besar, yakni 69,1% atau setara Rp6,91 triliun. Dengan kata lain, secara keseluruhan, penjualan baru menyentuh 51,12% dari ambisi pemerintah menghimpun dana.
Analisis Sentimen Pasar yang Mempengaruhi Minat
Lambatnya penyerapan ORI029 ini sebenarnya telah diantisipasi oleh sejumlah analis pasar modal. Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, menyoroti beberapa faktor penyebab. Salah satu sentimen negatif utama berasal dari penurunan outlook kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat Moody's Ratings.
Namun, menurutnya, sentimen itu bukan satu-satunya penyebab. "Apalagi kondisi sekarang tidak hanya dari Moody's, tapi ada beberapa risiko geopolitik yang juga meningkat, yang biasanya mendorong risk premi yang lebih tinggi," ungkapnya.
Sentimen dari dalam negeri juga turut berperan. Kekhawatiran investor muncul menyusul defisit APBN yang sempat melebar, ditambah dengan rencana belanja fiskal pemerintah yang masih agresif tahun ini. Kombinasi faktor ini membuat investor ritel lebih berhati-hati.
Geopolitik dan Tingkat Imbal Hasil yang Diminta
Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, Ramdhan Ario Maruto, lebih menekankan pada ketidakstabilan geopolitik global. Ketegangan antara AS dan Iran, misalnya, menciptakan ketidakpastian yang tinggi di pasar keuangan. Situasi ini mendorong investor untuk meminta imbal hasil (yield) yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko.
Data dari Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) saat itu menunjukkan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun sudah berada di level 6,39%. Untuk tenor tiga dan enam tahun, yield yang diminta pasar masing-masing sekitar 5,41% dan 5,97%. Sementara itu, ORI029 menawarkan kupon di kisaran 5,45% 5,80%, yang bagi sebagian investor dinilai belum sepenuhnya mengkompensasi risiko yang dirasakan.
"Ketegangan geopolitik ini kan menyebabkan ketidakpastian meningkat. Kalau saya lihat juga, ritel akhirnya wait and see untuk masuk," jelas Ramdhan.
Peluang di Tengah Tantangan
Meski demikian, peluang untuk penyerapan tetap ada. Momentum utama diharapkan datang dari aksi reinvestasi dana investor ritel yang diperoleh dari obligasi pemerintah lain yang jatuh tempo. Data dari BRI Danareksa Sekuritas mencatat, setidaknya ada empat Surat Utang Negara (SUN) yang jatuh tempo pada Februari 2026, dengan total nilai mencapai Rp46,85 triliun. Aliran dana segar ini berpotensi mengisi sebagian kuota ORI029.
Namun, optimisme itu dibayangi realitas pasar. Ramdhan memperkirakan, meski kondisi makroekonomi domestik terbilang solid, peluang ORI029 terserap penuh sangat kecil. Prediksinya, penawaran ini masih akan menyisakan kuota sekitar 10% di bawah target, mencerminkan sikap hati-hati yang masih mendominasi pasar keuangan ritel saat ini.
Artikel Terkait
Tersangka Otak SIM Palsu di Balik Kecelakaan Maut Tol Krapyak Diduga Andalkan Keahlian IT
PPM Manajemen dan Perkumpulan Strada Kolaborasi Tingkatkan SDM Pendidikan
Ditlantas Polda Metro Jaya Siagakan Personel Antisipasi Pergeseran Arus Lalu Lintas Saat Ramadan
Pengamat Ingatkan Ancaman Cuaca Ekstrem Saat Mudik Lebaran, Pemerintah Siapkan 143 Juta Perjalanan