Perundingan AS-Iran Uji Soliditas Hubungan Washington dan Tel Aviv

- Rabu, 18 Februari 2026 | 09:00 WIB
Perundingan AS-Iran Uji Soliditas Hubungan Washington dan Tel Aviv

Hubungan politik Amerika Serikat dan Israel selama puluhan tahun memang sering digambarkan sangat solid, hampir tanpa celah. Tapi coba perhatikan. Setiap kali isu Iran muncul ke permukaan, retakan di antara kedua sekutu itu langsung terlihat lagi. Seolah ada perbedaan taktik yang tak pernah benar-benar terselesaikan.

Nah, soliditas mereka bakal diuji lagi. Pasalnya, Selasa (17/2) nanti di Jenewa, Swiss, rencananya AS dan Iran akan kembali duduk di meja perundingan. Washington disebutkan akan mengirim utusan khusus Timur Tengah Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner. Sementara dari Teheran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi yang dijadwalkan hadir.

Di atas kertas, tujuan AS dan Israel sama: mencegah Iran menjadi kekuatan nuklir dan membatasi pengaruhnya di kawasan. Titik. Tapi kalau ditelisik lebih dalam, kepentingan, waktu, dan cara yang mereka pilih ternyata beda jauh. Bahkan bisa dibilang bertolak belakang.

Perbedaan ini makin nyata belakangan. Apalagi setelah gelombang protes besar di Iran awal tahun ini yang ditanggapi dengan kekerasan, ditambah sanksi AS yang makin ketat. Intensitas komunikasi antara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu pun meningkat drastis. Isu Iran kembali jadi poros utama pembicaraan mereka.

Ancaman Sama, Prioritas Beda

Baik AS maupun Israel sama-sama waswas. Bukan cuma soal program nuklir Iran, tapi juga pengembangan rudal balistik dan jaringan milisi proksi yang didukung Teheran. Secara prinsip, menurut analis politik Reza Talebi dari Leipzig, tujuan akhir mereka sebenarnya sama: menghentikan ambisi nuklir dan ekspansi regional Iran.

Tapi di sinilah masalahnya. Pertanyaan besarnya adalah: gimana cara mencapainya? Dan risiko apa yang rela mereka tanggung?

Bagi pemerintahan Trump, prioritasnya jelas: dapatkan kesepakatan baru dengan Iran. Strateginya dikenal sebagai "tekanan maksimum", kombinasi antara sanksi ekonomi yang menghajar dan ancaman militer yang menggertak.

Israel? Mereka memandang segala bentuk perjanjian dengan Iran dengan mata sangat curiga. Bagi Netanyahu, masalahnya bukan cuma isi perjanjiannya hari ini. Tapi apakah Iran bakal patuh dalam jangka panjang? Itu yang diragukan.

AS: Tekanan untuk Negosiasi

Menurut Shokriya Bradost, seorang analis kebijakan luar negeri kawasan Timur Tengah, arah Washington memang mengarah pada satu titik: kesepakatan baru. Caranya? Memeras ekonomi Iran habis-habisan lewat sanksi, terutama di sektor minyak. Tujuannya sederhana: bikin rezim itu kehabisan uang dan ruang gerak.

Tekanan ini diharapkan bisa memaksa Iran menyerah, atau minimal memberikan konsesi besar, tanpa harus memicu perang terbuka yang bakal meluas.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar