MURIANETWORK.COM - Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa (17 Februari 2026) sore ini di Jakarta. Sidang yang menjadi acuan nasional ini akan memadukan hasil pengamatan hilal (rukyat) di lapangan dengan perhitungan astronomi (hisab), melibatkan berbagai pihak dari pemerintah hingga ormas Islam untuk mencapai keputusan yang matang.
Proses Sidang yang Melibatkan Banyak Pihak
Prosesi penting ini diawali dengan pemantauan bulan sabit muda (hilal) di akhir bulan Syaban. Hasil pengamatan dari lapangan, bersama dengan data perhitungan ilmiah, kemudian akan dibahas secara mendalam dalam forum sidang. Sidang isbat dikenal sebagai forum yang komprehensif, menghadirkan perwakilan dari berbagai organisasi masyarakat Islam, kedutaan besar negara-negara Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), para ahli falak, serta perwakilan dari DPR dan Mahkamah Agung. Pendekatan integratif antara hisab dan rukyat ini mencerminkan kehati-hatian pemerintah dalam menyatukan perspektif ilmiah dan keagamaan.
Penetapan Awal Ramadan oleh Muhammadiyah
Sementara pemerintah masih melakukan proses sidang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah lebih dulu mengumumkan hasil penetapannya. Berdasarkan metode hisab yang menjadi pedoman organisasi tersebut, awal Ramadan 1447 H ditetapkan jatuh pada 18 Februari 2026.
“Penetapan tersebut menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yang menentukan awal bulan hijriah berdasarkan perhitungan posisi bulan dan matahari secara astronomis,” jelas pihak Muhammadiyah melalui fatwa resminya. Metode ini telah lama menjadi dasar dalam penyusunan kalender hijriah tunggal mereka.
Mengenal Sidang Isbat dan Tujuannya
Bagi masyarakat awam, sidang isbat mungkin terdengar sebagai istilah teknis. Secara sederhana, sidang ini adalah forum resmi yang diselenggarakan Kemenag untuk menetapkan secara sah awal bulan-bulan penting dalam kalender Hijriah, terutama Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Kata ‘isbat’ sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti penetapan atau pengesahan.
Tujuannya adalah untuk menghasilkan keputusan nasional yang dapat dijadikan pedoman bersama, dengan mempertimbangkan semua bukti yang ada. Dua pilar utama dalam sidang ini adalah hisab, yaitu perhitungan astronomi yang memberikan peta posisi hilal, dan rukyat, yaitu laporan langsung dari lapangan oleh tim pemantau yang tersebar di berbagai lokasi strategis.
Tahapan dan Jadwal Pelaksanaan
Berdasarkan jadwal resmi, sidang isbat penentuan 1 Ramadan 1447 H akan digelar pada Selasa, 17 Februari 2026, mulai pukul 16.00 WIB di Auditorium Pusat H.M Rasjidi, Kantor Kemenag, Jakarta. Prosesnya akan berlangsung dalam beberapa tahap berurutan.
Tahap pertama adalah pemaparan data hisab oleh tim ahli. Selanjutnya, sidang akan melakukan verifikasi terhadap laporan rukyatul hilal yang datang dari 37 titik pengamatan di seluruh Indonesia, termasuk dari lokasi-lokasi baru seperti Masjid Ibu Kota Nusantara (IKN). Dari sintesis seluruh data inilah, keputusan akhir akan diambil dan diumumkan kepada publik.
Artikel Terkait
Menlu Sugiono Perkuat Diplomasi Palestina dan Perdamaian Global di Sidang DK PBB New York
Imam Al-Aqsa Ditahan Israel Jelang Ramadan, Akses Jemaah Dibatasi
Harga Emas Antam Turun Rp 22.000 per Gram di Awal Pekan
BRIN Prediksi Awal Ramadan 2026 Berpotensi Berbeda Akibat Perdebatan Hilal Global vs Lokal