Lantas, apa yang mendorong angka setinggi itu? Firman Manan, pengamat dari Universitas Padjajaran, melihat ini berakar pada kekuatan personal Dedi Mulyadi yang cocok dengan harapan warga.
"Satu sisi dia terlihat sangat empati pada rakyat kecil. Di sisi lain, dia bisa menjadi sangat tegas," tutur Firman.
Ditambah lagi, narasi kuat di media sosial dinilai turut membangun persepsi positif dan menjadi acuan bagi banyak orang. Meski demikian, Firman menekankan perlunya media penyeimbang. Tujuannya agar publik tetap kritis dan menyadari bahwa pemerintahan mana pun tak luput dari kemungkinan kekeliruan.
Pandangan lain datang dari Djayadi Hanan dari Persepi. Dia mengingatkan bahwa kepuasan terhadap pemimpin sering kali bersifat partisan. Artinya, banyak yang puas karena mereka memang pendukungnya sejak Pilkada.
"KDM menang telak di Pilgub, itu didorong oleh partisan. Jadi faktor itu juga perlu dilihat," jelasnya.
Faktor lain yang tak kalah penting: belum munculnya tokoh alternatif yang bisa menjadi pesaing kuat di Jawa Barat. Sebagaimana kita ingat, Dedi Mulyadi dan Erwan Setiawan memang menang telak pada Pilkada 2024 dengan raihan lebih dari 14 juta suara.
Jadi, di balik angka kepuasan yang hampir sempurna, ada cerita yang lebih kompleks. Ada kekaguman, tapi juga ada sinyal agar kita semua tetap menjaga nalar kritis.
Artikel Terkait
Apindo Desak Pemerintah Beri Stimulus Terarah untuk Industri Padat Karya Antisipasi Dampak Perang
Polisi Bekasi Ringkus Tiga Pelaku Penyiaram Air Keras Berencana
Kolaborasi ITB dan IIDI Pasok Air Bersih untuk 1.000 Jiwa di Agam Pascabanjir
Macan Tutul Terjerat Perangkap Babi di Puncak, Dievakuasi ke Taman Safari