MURIANETWORK.COM - Inter Milan berhasil meraih kemenangan dramatis atas Juventus dengan skor 3-2 dalam laga Derby d'Italia di Stadion Giuseppe Meazza, Senin dini hari WIB. Kemenangan tipis Nerazzurri ini, bagaimanapun, ternoda oleh kontroversi keputusan wasit yang mengusir bek Juventus, Pierre Kalulu, menjelang akhir babak pertama.
Kontroversi Kartu Merah Pierre Kalulu
Insiden panas terjadi pada menit ke-42. Pierre Kalulu, yang sebelumnya telah mendapat peringatan, menerima kartu kuning kedua setelah wasit menilai ia melakukan pelanggaran terhadap Alessandro Bastoni. Pengusiran itu langsung mengubah dinamika pertandingan, memaksa Juventus bermain dengan sepuluh pemain hingga laga usai.
Reaksi pun beragam. Dari sudut pandang Inter Milan, pelatih Cristian Chivu menyatakan bahwa keputusan wasit sudah tepat. Ia mengakui bahwa sentuhan yang dilakukan Kalulu memang terbilang minim, namun tetap merupakan sebuah pelanggaran yang tidak perlu dilakukan oleh pemain yang sudah terkena kartu.
"Kartu kuning kedua Kalulu? Bagi saya, itu adalah sentuhan kecil, tapi tetap sentuhan," ucap Chivu dalam konferensi pers pasca-pertandingan. "Saya katakan kepada para pemain saya untuk tidak menempatkan wasit di posisi di mana ia harus membuat keputusan."
Chivu lebih lanjut menekankan aspek pengalaman yang seharusnya dimiliki Kalulu. "Bastoni merasakan sentuhan dan pemain dengan pengalaman seperti Kalulu harusnya tidak menggunakan tangannya jika ia sudah mendapat kartu kuning," tegasnya.
Analisis Insiden dan Dampaknya
Insiden ini menjadi pembicaraan hangat di kalangan pengamat sepak bola. Di satu sisi, aturan memang jelas: sentuhan tangan, sekecil apapun, dapat diinterpretasikan sebagai pelanggaran, terutama jika pemain tersebut sudah dalam status peringatan. Wasit berada dalam posisi yang sulit untuk mengabaikan gerakan tersebut.
Di sisi lain, banyak yang mempertanyakan konsistensi penerapan aturan, mengingat dalam pertandingan yang sama seringkali terjadi kontak serupa tanpa konsekuensi serupa. Pengusiran Kalulu secara tidak terbantah memberikan keuntungan psikologis dan taktis bagi Inter, yang akhirnya mampu mempertahankan keunggulan tipis mereka.
Kemenangan ini tentu sangat berharga bagi perjalanan Inter Milan di papan atas klasemen. Namun, aroma kontroversi yang menyertainya memastikan bahwa Derby d'Italia edisi ini akan terus dikenang dan diperdebatkan, jauh melampaui sekadar angka di papan skor.
Artikel Terkait
Anggota Komisi X DPR Pantau Pengobatan Gratis dan Sosialisasi Program di Ragunan
Pelatih Nasional Soroti Pentingnya Fondasi Teknik dan Karakter dalam Pembinaan Atlet Finswimming Usia Dini
Trump Hapus Video Rasialis yang Serang Obama Usai Kecaman Luas
Menteri Koperasi Resmikan Torasera di Probolinggo, Dukung Target 80 Ribu Kopdes