Ia memaparkan bahwa jenis pestisida tertentu, terutama yang bersifat neurotoksik, dapat memicu reaksi cepat seperti mual, pusing, dan gangguan saraf, bahkan kematian pada paparan dosis tinggi.
"Dalam jangka panjang, paparan kronis berpotensi memicu gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan risiko karsinogenik," ungkap Ignas.
Langkah Mitigasi: Dari Tanggap Darurat hingga Pemulihan Jangka Panjang
Menyikapi situasi darurat, Ignas merekomendasikan serangkaian tindakan segera. Intake air baku PDAM di zona terdampak perlu ditutup sementara, sementara pemantauan kualitas air harus ditingkatkan secara real-time. Edukasi cepat kepada warga juga mutlak diperlukan untuk mencegah penggunaan air sungai untuk segala keperluan sehari-hari.
Namun, upaya tidak boleh berhenti di situ. Untuk membangun ketahanan yang lebih baik ke depan, diperlukan strategi komprehensif. Ignas menekankan pentingnya pengawasan hukum yang ketat, pembangunan sistem peringatan dini berbasis sensor, serta diversifikasi sumber air baku. Restorasi ekosistem tepian sungai (zona riparian) juga dinilai krusial untuk meningkatkan kemampuan alami sungai dalam menetralisir polutan.
Sebagai pesan akhir kepada publik, Ignas berpesan agar masyarakat tetap tenang namun waspada. Ia mengimbau untuk selalu mengikuti arahan resmi dari pihak berwenang.
"Kepada masyarakat, kami mengimbau agar tidak panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti instruksi resmi pemerintah dan PDAM. Jangan menggunakan air sungai untuk memasak, minum, mencuci, atau mandi sampai ada pernyataan bahwa air telah aman. Hindari konsumsi ikan dari wilayah terdampak selama masa krisis," pungkasnya.
Artikel Terkait
Kilas Balik 2 April: Dari Kemerdekaan Cirebon hingga Wabah Antraks Rusia
Bayi Perempuan Ditemukan Terbungkus Plastik di Sambas, Disertai Pesan Tolong Dimakamkan
Menteri Hukum Serahkan 146 Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual di Klungkung
Presiden Prabowo Kembali dengan Komitmen Investasi Rp 575 Triliun dari Jepang dan Korea