Upaya pemerintah untuk membangun ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan terus digenjot. Tujuannya jelas: agar pertumbuhan nasional benar-benar bisa dirasakan oleh semua orang, dari kota sampai ke pelosok desa.
Berbagai kebijakan pun difokuskan pada hal-hal yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari. Memperkuat daya beli, menekan angka kemiskinan, dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya dianggap sebagai fondasi utama. Tanpa fondasi yang kokoh dari bawah, mustahil bangunan ekonomi nasional bisa berdiri tegak.
Dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat lalu, Presiden Prabowo Subianto memberikan penekanan khusus pada salah satu program andalannya.
“Makan bergizi gratis telah mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga ini dan mendorong pertumbuhan di desa-desa, di kecamatan-kecamatan, di lapisan yang paling bawah dari ekonomi kita,” jelasnya.
Menurut Presiden, program itu bukan sekadar bantuan sosial. Ia telah menjadi motor penggerak konsumsi di tingkat akar rumput. Daya beli masyarakat terdongkrak, dan efeknya berantai. Aktivitas ekonomi lokal ikut bergeliat, mulai dari sektor pertanian, distribusi pangan, hingga usaha mikro kecil yang tersebar di berbagai daerah.
Di sisi lain, capaian positif lain juga mulai terlihat. Tingkat kemiskinan dan pengangguran terbuka menunjukkan tren penurunan. Perkembangan ini, meski masih perlu terus dipantau, setidaknya memberi gambaran bahwa kebijakan yang diambil mulai menunjukkan hasil. Struktur ekonomi nasional perlahan menguat, dan kesejahteraan masyarakat pun terdongkrak.
“Dan di sinilah, dari lapisan paling bawah Indonesia akan bangkit menjadi ekonomi yang dinamis. Kalau saya percaya bahwa ekonomi kita akan sangat baik tahun ini,” ujar Presiden Prabowo dengan optimisme.
Namun begitu, program makan bergizi gratis ini sebenarnya punya dampak yang lebih dalam dari sekadar angka konsumsi. Ia adalah investasi jangka panjang. Dengan gizi yang terpenuhi, kualitas kesehatan dan produktivitas generasi penerus bangsa diharapkan akan jauh lebih baik. Ini adalah langkah transformasi struktural yang menyasar fondasi paling dasar: sumber daya manusia.
Implementasi program-program prioritas seperti ini menunjukkan arah kebijakan yang semakin berorientasi pada pemerataan. Desa dan komunitas lokal kini ditempatkan sebagai pusat pertumbuhan baru. Pemerintah tampaknya yakin, dengan strategi ini, ekonomi Indonesia akan semakin tangguh dan berdaya saing menuju visi Indonesia Emas 2045.
Presiden pun menutup sambutannya dengan nada bangga.
“Saya kira di dunia ini, ini adalah suatu prestasi yang membanggakan dari segi manajemen, dari segi logistik, dari segi pengendalian, saya kira ini sesuatu yang mungkin harus dicatat sebagai prestasi yang membanggakan kita,” pungkasnya.
Acara penting itu sendiri dihadiri oleh para menteri, pimpinan lembaga negara, hingga perwakilan dunia usaha dan perbankan. Ke depan, seluruh langkah kebijakan ini akan dijalankan dengan koordinasi ketat antar kementerian dan lembaga. Tata kelola yang kuat dan kepastian arah menjadi kunci agar semua rencana tak hanya bagus di atas kertas, tapi juga nyata di lapangan.
Artikel Terkait
Mendagri Tito Minta Kepala Daerah Percepat Pendataan untuk Bantuan Rumah Korban Bencana
Ketua Fraksi PKB MPR: PBI-JK Adalah Amanat Konstitusi, Implementasi Perlu Diperbaiki
PPP Targetkan Kembali Raih 39 Kursi DPR di Pemilu 2029
Persiapan Asuransi Perjalanan Jadi Kunci Antisipasi Risiko Libur Panjang Imlek