Di sisi lain, ambisi Danantara ternyata jauh lebih besar. Beberapa waktu sebelumnya, dalam Panel Diskusi World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Managing Director Global Relations and Governance Danantara Indonesia, Mohamad Al-Arief, mengungkapkan skala mereka saat ini. Total aset yang dikelola sudah menyentuh angka USD900 miliar, atau setara Rp15,29 kuadriliun.
Dan itu belum apa-apa. Targetnya, nilai aset kelolaan itu bakal dinaikkan tiga kali lipat pada 2030. Salah satu motor penggeraknya adalah transformasi dan konsolidasi BUMN yang masif.
"Dalam lima tahun mendatang, kami harus meningkatkan (aset) melalui penciptaan nilai dan sebagainya," jelas Al-Arief.
"Secara bertahap mencapai tujuan kami untuk melipatgandakan jumlah tersebut hingga tiga kali lipat pada 2030."
Rencananya, untuk mencapai angka itu, Danantara akan mengonsolidasi 1.068 BUMN yang ada menjadi sekitar 221 entitas usaha. Proses transformasi besar-besaran ini ditargetkan rampung dalam tiga hingga empat tahun ke depan.
Menurut Al-Arief, saat ini ribuan BUMN tersebut dikelola oleh sekitar 50 holding di berbagai sektor. Ke depan, semuanya harus lebih rapi dan profesional.
"Mungkin dalam tiga-empat tahun, dari 1.068 (perusahaan) akan bertransformasi menjadi 200 lebih Badan Usaha Milik Negara yang dikelola secara profesional," pungkasnya.
Tujuannya jelas: agar lebih kompetitif dan punya daya tahan jangka panjang. Itulah tantangan besar yang harus dijawab Danantara, di tengah sorotan dan tuntutan presiden.
Artikel Terkait
Timnas Indonesia Runner-up FIFA Series 2026 Usai Takluk Tipis dari Bulgaria
Polda Sumsel Tingkatkan Patroli Pasca-Lebaran Lewat KRYD
Motif Ekonomi di Balik Pembunuhan dan Mutilasi di Kios Ayam Geprek Bekasi
Pria Lansia Disiram Air Keras Saat Berangkat Salat Subuh di Bekasi