Nah, di sinilah peran Gerakan Pangan Murah jadi krusial. Ia hadir sebagai langkah strategis untuk mengendalikan harga, menjaga stabilitas, dan yang paling penting: memastikan bahan pokok tetap terjangkau bagi masyarakat biasa.
Di gelaran GPM Pucang Gading saja, setidaknya 11 pelaku usaha terlibat. Mulai dari institusi besar seperti Bulog, RNI, PPI, dan JTAB, sampai UMKM binaan daerah, kelompok tani, hingga perusahaan lokal seperti CV. Futago Farm Demak. Keroyokan ini intinya demi satu tujuan: harga stabil.
Selain GPM, ada senjata lain. Satgas Pangan Jawa Tengah akan gencar melakukan penyisiran. Tujuannya ganda: menjaga stabilitas harga dan mengantisipasi ulah spekulan yang mungkin bermain.
"Harus kita sisir, mulai dari hilirisasi petani, distributor, sampah ke tempat penjualan dan konsumen,"
tuturnya tegas.
Di sisi lain, respon warga langsung terasa. Nuraini, salah seorang warga Pucang Gading, tak menyembunyikan rasa senangnya.
"Sangat terbantu sekali dengan adanya gerakan pangan murah ini. Apalagi harga yang dijual lebih murah dari di pasar. Semoga kegiatan serupa lebih sering diselenggarakan,"
ungkapnya. Suara yang mungkin mewakili banyak orang di tengah situasi seperti sekarang.
Artikel Terkait
Angin Puting Beliung Terjang Kudus, 221 Rumah Rusak di Empat Desa
DKI Mulai Bangun Zebra Cross di Tebet, Respons Atas Inisiatif Warga
Guru MTs di Depok Diduga Sebar Brosur Jasa Seksual, Mengidap HIV Sejak 2014
Pertamina Bantah Isu Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi