Hari ini, di halaman kantor TVRI Jawa Tengah, Gubernur Ahmad Luthfi meninjau langsung Gerakan Pangan Murah. Dari sana, dia mengumumkan rencana besar: gerakan ini akan digelar di seluruh daerah, berkolaborasi dengan pemerintah kabupaten dan kota. Targetnya? Berjalan sampai Maret 2026.
"Jadi, kita sudah punya jadwal untuk kegiatan gerakan pangan murah ini,"
kata Luthfi dalam keterangan tertulisnya, Jumat (13/2/2026).
Menurutnya, ini bukan cuma program lokal. Gerakan Pangan Murah adalah program nasional. Di Jawa Tengah, langkah pertama diambil di Pucang Gading, Mranggen, Demak. Lokasi ini sengaja dipilih karena posisinya yang strategis berada di perbatasan dengan Kota Semarang. Luthfi juga tak lupa menyebut antusiasme warga sekitar yang begitu tinggi menyambut kegiatan ini.
Secara umum, stok pangan pokok di Jawa Tengah sebenarnya surplus. Tapi, awal Februari ini ada saja gejolak. Menjelang Ramadan, beberapa komoditas terpantau naik harganya.
Cabai, misalnya, melonjak sekitar 35,7% dari Harga Acuan Pembelian (HAP) menjadi Rp 77.800 per kilogram. Lalu ada Minyak Kita, naik 3,4% dari HET jadi Rp 16.300 per liter. Daging kerbau beku meroket 38,4% ke angka Rp 110.000/kg. Sementara jagung untuk peternak ayam petelur naik 7,4% menjadi Rp 6.250/kg.
"Ada kenaikan tapi belum signifikan, kecuali cabai yang hampir mendekati angka Rp 80 ribu,"
jelas Luthfi.
"JTAB sudah kita perintahkan untuk melakukan penetrasi harga di seluruh pasar."
Nah, di sinilah peran Gerakan Pangan Murah jadi krusial. Ia hadir sebagai langkah strategis untuk mengendalikan harga, menjaga stabilitas, dan yang paling penting: memastikan bahan pokok tetap terjangkau bagi masyarakat biasa.
Di gelaran GPM Pucang Gading saja, setidaknya 11 pelaku usaha terlibat. Mulai dari institusi besar seperti Bulog, RNI, PPI, dan JTAB, sampai UMKM binaan daerah, kelompok tani, hingga perusahaan lokal seperti CV. Futago Farm Demak. Keroyokan ini intinya demi satu tujuan: harga stabil.
Selain GPM, ada senjata lain. Satgas Pangan Jawa Tengah akan gencar melakukan penyisiran. Tujuannya ganda: menjaga stabilitas harga dan mengantisipasi ulah spekulan yang mungkin bermain.
"Harus kita sisir, mulai dari hilirisasi petani, distributor, sampah ke tempat penjualan dan konsumen,"
tuturnya tegas.
Di sisi lain, respon warga langsung terasa. Nuraini, salah seorang warga Pucang Gading, tak menyembunyikan rasa senangnya.
"Sangat terbantu sekali dengan adanya gerakan pangan murah ini. Apalagi harga yang dijual lebih murah dari di pasar. Semoga kegiatan serupa lebih sering diselenggarakan,"
ungkapnya. Suara yang mungkin mewakili banyak orang di tengah situasi seperti sekarang.
Artikel Terkait
Puspom TNI Catat Penurunan Pelanggaran Prajurit Hampir 40% di 2025
Persebaya Ajak Bonek Donasi Alat Tulis Jelang Laga Kontra Bhayangkara FC
Reporter Iran Dipecat Usai Salah Ucap Slogan Anti-Khamenei dalam Siaran Langsung
Presiden Prabowo Anugerahkan Bintang Jasa kepada Perwira Polri dan Tokoh Pendukung Ketahanan Pangan