Kembali ke pesan utama, Prabowo mendorong Polri untuk kuat. Menurutnya, jadi bulan-bulanan adalah konsekuensi bagi mereka yang berbuat baik untuk negara. "Dulu TNI yang selalu diserang bulan-bulanan, ya polisi, ya tabah lah kau juga jadi sasaran bulan bulanan, nggak papa, ya kan," ucap Prabowo. "Itu risiko, yang penting niat baik, pengorbanan untuk bangsa dan negara."
Dia juga memberi analogi tentang kesalahan dalam sebuah institusi. Bila ada oknum yang keliru, yang harus ditindak adalah oknumnya, bukan membubarkan institusinya. Prabowo mengambil contoh sederhana dari dunia pendidikan.
"Kalau ada dalam institusi ratusan ribu orang kalau ada nggak bener ya tindak," tegasnya. "Saya ibaratkan kalau ada sekolah muridnya ada yang brengsek, ada yang tawuran, ada yang kurang ajar, muridnya, bukan kepala sekolahnya yang dicopot, keliru itu. Bukan terbalik, bukan sekolahnya ditutup. Tapi nggak papa ini risiko seorang pemimpin."
Di akhir sambutannya, pesannya jelas: bertahan dan sabar. Dia melihat Polri sudah menunjukkan kinerja yang baik. Sambil menyinggung soal bintang di pundak, dia mengingatkan tentang kerasnya dunia maya.
"Kau dikasih bintang di sini (pundak kanan dan kiri), untuk tahan, tahan banting, tahan maki-maki, tahan serangan, apalagi serangannya di sosmed ya kan," ujarnya. "Sosmed itu banyak buzzer, jadi kita harus tegar. Yang jelas kita buktikan kepada rakyat."
Dan dia menutup dengan apresiasi. "Hari ini saya harus mengatakan bahwa saya bangga, dan puas dengan prestasi ini," pungkas Prabowo.
Artikel Terkait
Hakim Federal Hentikan Sementara Proyek Ballroom Mewah Trump di Gedung Putih
Bandara Ngurah Rai Layani 1,14 Juta Penumpang Saat Posko Lebaran 2026
Indonesia Desak DK PBB Gelar Sidang Darurat Usai Tiga Pasukan Perdamaiannya Gugur di Lebanon
Swedia Lolos ke Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Polandia 3-2 dalam Drama Play-off