Warga Iran Banjiri Jalan Rayakan 47 Tahun Revolusi Islam di Teheran

- Kamis, 12 Februari 2026 | 02:45 WIB
Warga Iran Banjiri Jalan Rayakan 47 Tahun Revolusi Islam di Teheran

Udara dingin di Teheran pagi itu tak mampu meredam gelora. Sejak Rabu pagi, jalan-jalan utama ibu kota Iran itu perlahan berubah jadi lautan manusia. Jutaan orang membanjiri ruas jalan, semua bergerak menuju satu titik: Azadi Square. Mereka merayakan hari bersejarah, 47 tahun kemenangan Revolusi Islam. Monumen ikonik itu, seperti biasa, menjadi magnet pemersatu di setiap momen penting bangsa ini.

Dari balik kerumunan, seorang Warga Negara Indonesia, Ismail Amin, melaporkan langsung untuk Metro TV. Suaranya terdengar lantang menembus riuh rendah kerumunan.

"Saat ini saya sedang berada di Teheran, tidak jauh dari Maidan Azadi. Kita bisa melihat lautan massa sedang turun ke jalan. Mereka ingin menunjukkan bahwa sampai saat ini mereka masih percaya dengan Republik Islam Iran dan kepemimpinan negara,"

Ismail menggambarkan, menara Azadi yang menjadi simbol kebebasan itu, kembali menjadi saksi bisu sebuah peringatan yang penuh makna. Menara itu berdiri tegak mengingatkan pada tumbangnya rezim monarki Dinasti Pahlavi, hampir setengah abad silam.

Dan ini bukan sekadar pesta rakyat biasa. Kehadiran massa dalam skala sedemikian besar, menurut Ismail, membawa pesan politik yang keras. Terutama untuk dunia internasional, Barat khususnya. Partisipasi massal ini seperti tamparan untuk narasi-narasi yang kerap digaungkan media asing, yang menggambarkan Iran di ambang kehancuran atau terbelah oleh konflik internal. Di tengah ancaman geopolitik dan tekanan sanksi yang mencekik, rakyat di sini justru terlihat ceria. Bendera nasional berkibar di mana-mana, wajah-wajah penuh semangat, jauh dari kesan panik.

"Kehadiran mereka membantah narasi bahwa Iran sedang dalam konflik atau kehancuran," tambah Ismail. "Mereka menunjukkan kegembiraan, bukan kekhawatiran di tengah ancaman invasi. Ini menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Islam Iran masih eksis dan berdiri kokoh."

Suasananya benar-benar hidup. Sepanjang jalur menuju alun-alun, spanduk raksasa dan poster para tokoh revolusi memenuhi sudut kota. Yang menarik, solidaritas sosial tampak begitu nyata. Puluhan posko berdiri di sepanjang rute, didirikan oleh relawan, ormas, dan lembaga sosial. Mereka dengan sukarela menyediakan teh hangat untuk melawan dingin, makanan ringan, bahkan layanan medis darurat. Banyak keluarga datang dengan anak-anak kecil, menciptakan atmosfer cair bak karnaval akbar.

Dan di atas segalanya, lagu-lagu perjuangan revolusi yang sudah mendarah daging itu terus menggema dari pengeras suara. Iramanya menyemangati, mengiringi langkah jutaan warga yang, setidaknya untuk hari ini, merayakan kedaulatan negerinya dengan penuh keyakinan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar