Dan ini bukan sekadar pesta rakyat biasa. Kehadiran massa dalam skala sedemikian besar, menurut Ismail, membawa pesan politik yang keras. Terutama untuk dunia internasional, Barat khususnya. Partisipasi massal ini seperti tamparan untuk narasi-narasi yang kerap digaungkan media asing, yang menggambarkan Iran di ambang kehancuran atau terbelah oleh konflik internal. Di tengah ancaman geopolitik dan tekanan sanksi yang mencekik, rakyat di sini justru terlihat ceria. Bendera nasional berkibar di mana-mana, wajah-wajah penuh semangat, jauh dari kesan panik.
"Kehadiran mereka membantah narasi bahwa Iran sedang dalam konflik atau kehancuran," tambah Ismail. "Mereka menunjukkan kegembiraan, bukan kekhawatiran di tengah ancaman invasi. Ini menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Islam Iran masih eksis dan berdiri kokoh."
Suasananya benar-benar hidup. Sepanjang jalur menuju alun-alun, spanduk raksasa dan poster para tokoh revolusi memenuhi sudut kota. Yang menarik, solidaritas sosial tampak begitu nyata. Puluhan posko berdiri di sepanjang rute, didirikan oleh relawan, ormas, dan lembaga sosial. Mereka dengan sukarela menyediakan teh hangat untuk melawan dingin, makanan ringan, bahkan layanan medis darurat. Banyak keluarga datang dengan anak-anak kecil, menciptakan atmosfer cair bak karnaval akbar.
Dan di atas segalanya, lagu-lagu perjuangan revolusi yang sudah mendarah daging itu terus menggema dari pengeras suara. Iramanya menyemangati, mengiringi langkah jutaan warga yang, setidaknya untuk hari ini, merayakan kedaulatan negerinya dengan penuh keyakinan.
Artikel Terkait
Gus Salam Desak Negara Kuasai SDA Strategis dan NU Segera Berbenah
Surabaya Gelar Festival Industri dan Tenaga Kerja untuk Dongkrak Ekspor dan Serap Pengangguran
BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi hingga Empat Meter, Berlaku hingga 1 April
Rano Karno Ungkap Rencana Revitalisasi Anjungan DKI Jakarta di TMII