“Dari upaya yang kami lakukan sampai Februari ini, alhamdulillah kami sudah mendapat tambahan 13 sumur eksplorasi dari WP&B yang telah ditandatangani,” ungkap Djoko.
Konteks: Menahan Laju Penurunan Produksi
Dorongan masif untuk eksplorasi ini bukan tanpa alasan. Dalam delapan tahun terakhir, tren lifting atau produksi minyak nasional memang cenderung menurun. Baru pada 2025, tren tersebut menunjukkan tanda-tanda pembalikan. Data SKK Migas mencatat, lifting minyak dan kondensat naik tipis dari sekitar 579 ribu barel per hari (bph) pada 2024 menjadi 581 ribu bph di 2025 (tanpa memasukkan NGL). Jika NGL dihitung, angka 2025 mencapai 605 ribu bph, sedikit melampaui target APBN.
Percepatan eksplorasi dinilai sebagai langkah kunci untuk menahan laju penurunan alami lapangan minyak tua sekaligus membuka peluang ditemukannya cadangan-cadangan baru yang dapat menopang ketahanan energi jangka panjang.
Target Pendukung dan Proyek yang Akan Beroperasi
Selain pengeboran, SKK Migas juga meningkatkan target kegiatan pendukung. Pada 2026, survei seismik 2D di wilayah open area ditargetkan mencapai 6.000 kilometer, sementara survei seismik 3D ditargetkan sekitar 6.173 kilometer, meski sebagian masih dalam tahap pengadaan.
Di sisi lain, sejumlah proyek hulu migas dijadwalkan mulai berproduksi pada tahun yang sama. Beberapa di antaranya adalah fasilitas produksi Lapangan Sedingin North 1, Lapangan Puspa Asri, serta tambahan produksi dari Donggi Senoro dan PHE Offshore. Delapan proyek yang total investasinya mencapai 478 juta dolar AS ini diproyeksikan dapat menambah produksi sekitar 8.200 barel minyak per hari dan 214 MMSCFD gas, memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan lifting nasional.
Artikel Terkait
Pertamina Catat Lonjakan Konsumsi BBM Berkualitas Jelang Mudik Lebaran 2026
PSSI Dapat Dukungan Kemendikdasmen untuk Pengembangan Sepak Bola di Sekolah
Prabowo Bahas Gaza dan Kondisi Dalam Negeri Bersama Tokoh Ormas Islam
Gelombang Pemudik Masih Padati Bakauheni di H+7 Lebaran