Jakarta. Tekanan deflasi di sektor pabrik China ternyata sedikit mengendur di Januari lalu. Penyebabnya? Reli harga logam global yang cukup memberi angin segar. Tapi jangan terlalu cepat optimis. Permintaan dalam negeri yang masih lembek terus jadi ganjalan, menghalangi pemulihan inflasi yang lebih mantap.
Data dari Biro Statistik Nasional (NBS) yang dirilis Rabu (11/2) menunjukkan, Indeks Harga Produsen (PPI) masih terkontraksi 1,4% secara tahunan. Tapi, ini adalah penurunan paling kecil yang tercatat sejak Juli 2024. Ada perbaikan, meski tipis.
Di sisi lain, ceritanya berbeda untuk inflasi konsumen. Laju kenaikan harga di tingkat konsumen justru melambat untuk pertama kalinya sejak Agustus, hanya tumbuh 0,2% (yoy). Angka ini turun jauh dari Desember yang 0,8%. Perlambatan ini, menurut catatan, banyak dipengaruhi efek basis perbandingan yang tinggi dari periode sama tahun lalu.
Robin Xing, ekonom dari Morgan Stanley, menyoroti hal ini. Baginya, belum ada sinyal reflasi yang benar-benar meyakinkan di China.
“Kami belum melihat transmisi kenaikan harga komoditas di hulu ke harga barang konsumsi di hilir,” ujarnya, seperti dikutip Bloomberg.
Intinya, perbaikan PPI yang terjadi belum didorong oleh permintaan riil. Itu masalah besarnya.
Memang, reli harga emas dan komoditas lain membantu menahan laju deflasi. Tapi tekanan strukturalnya masih kuat banget. Mayoritas ekonom sih memproyeksikan biaya produsen dan konsumen akan pulih tahun ini. Namun, tanpa lonjakan signifikan permintaan domestik, tekanan penurunan harga diprediksi bakal bertahan.
Lihat saja proyeksi untuk 2026. Berdasarkan survei Bloomberg, inflasi konsumen China cuma diprediksi naik 0,7% sepanjang tahun. Angka itu termasuk yang terendah di dunia, dan jauh di bawah target pemerintah yang sekitar 2%.
Perbaikan PPI Januari itu sendiri terutama digerakkan oleh perubahan di sektor hulu, seperti pengolahan dan pemurnian logam. Penurunan harga barang produsen yang jadi cermin kinerja pertambangan, bahan baku, dan manufaktur menyempit jadi 1,3% dari 2,1% di Desember.
Ironisnya, penurunan harga barang konsumsi, mulai dari makanan sampai kebutuhan sehari-hari, malah melebar jadi 1,7% dari 1,3%. Ada perbedaan yang mencolok antara hulu dan hilir.
Alicia Garcia Herrero, ekonom kepala Asia Pasifik di Natixis SA, sebelumnya berpendapat, setelah 40 bulan berturut-turut turun, perbaikan PPI bisa jadi sinyal positif. Tapi itu hanya jika tekanan deflasi di sisi produksi benar-benar mulai mereda.
Artikel Terkait
Gangguan Ginjal Kronis Kini Serang Kaum Muda, Gaya Hidup Jadi Pemicu
Tren Film Indonesia Terinspirasi Kisah Nyata, Sorot Cinta hingga Pengkhianatan
Polres Tapin Panen Perdana Jagung dari Lahan Tidur Milik Polri
LCP 2026 Split 2 Dimulai 4 April, Dua Tiket ke MSI Diperebutkan