Menurut Presiden Petro, ancaman terhadap nyawanya bukanlah hal baru. Dia mengaku telah menerima peringatan selama berbulan-bulan tentang rencana yang didalangi oleh jaringan perdagangan narkoba. Kelompok-kelompok ini disebutkan sangat tidak menyukai kebijakan-kebijakannya sejak ia menjabat pada Agustus 2022.
Analisis dari lapangan menunjukkan konspirasi yang dituduhkan ini melibatkan nama-nama besar dalam dunia kriminal Kolombia. Salah satunya adalah Ivan Mordisco, panglima perang yang memimpin kelompok pembangkang terbesar yang memisahkan diri dari gerilya FARC pasca perjanjian damai bersejarah tahun 2016. Fragmentasi kelompok bersenjata pasca-perdamaian memang sering menciptakan aktor-aktor baru yang sulit dikendalikan.
Konteks Kekerasan Politik yang Panjang
Klaim Petro ini harus dilihat dalam sejarah kelam Kolombia yang penuh kekerasan politik. Negara ini memiliki catatan panjang mengenai pembunuhan terhadap pemimpin-pemimpin sayap kiri, termasuk mereka yang mencalonkan diri sebagai presiden. Petro sendiri, sebagai presiden sayap kiri pertama di Kolombia, bukan kali ini saja merasakan ancaman nyata. Pada tahun 2024, ia juga dilaporkan menjadi target percobaan pembunuhan lainnya.
Dengan larangan konstitusional baginya untuk mencalonkan diri kembali, situasi keamanan yang volatile ini menambah kompleksitas pada tahun politik yang sudah panas. Klaim dari istana kepresidenan ini dipastikan akan memicu gelombang investigasi dan perdebatan publik mengenai stabilitas keamanan nasional di tengah periode transisi kekuasaan yang kritis.
Artikel Terkait
Pengamat: Pembatasan Media Sosial untuk Anak Bisa Tingkatkan Kualitas Pendidikan
YeePay Luncurkan Solusi Pembayaran Global untuk Jawab Geliat Pariwisata Tiongkok di ITB Berlin
Pelatih PSBS Biak Buka Suara Soal Tunggakan Gaji Pemain yang Telah Dua Bulan
Iran Serang Pangkalan AS di Arab Saudi, Belasan Tentara AS Terluka