Narapidana Bebas Sementara Tewaskan Ibu, Istri, dan Putrinya di Ankara

- Rabu, 11 Februari 2026 | 00:05 WIB
Narapidana Bebas Sementara Tewaskan Ibu, Istri, dan Putrinya di Ankara

MURIANETWORK.COM - Seorang narapidana di Ankara, Turki, diduga membunuh tiga orang perempuan dari satu keluarga sebelum mengakhiri hidupnya sendiri. Peristiwa tragis yang terjadi pada Selasa (10/2/2026) ini kembali memantik kemarahan kelompok feminis dan advokasi di negara tersebut, yang menuding sistem peradilan gagal melindungi perempuan dari kekerasan.

Korban Adalah Keluarga Inti Pelaku

Berdasarkan informasi yang beredar, ketiga korban ternyata memiliki hubungan keluarga yang sangat dekat dengan pelaku. Mereka adalah ibu, istri, dan putri dari pria tersebut. Setelah melakukan pembunuhan beruntun, pelaku dilaporkan menembak dirinya sendiri. Kasus ini pun segera menarik perhatian luas karena pola dan pelakunya.

Izin Bebas Sementara yang Berujung Maut

Pelaku sebelumnya sedang menjalani hukuman penjara di barat laut Turki atas kasus penipuan dan ancaman bersenjata. Menurut laporan media setempat, ia baru saja mendapatkan pembebasan sementara dari penjara pada awal Februari untuk jangka waktu 11 hari. Kebijakan pembebasan sementara inilah yang kemudian menjadi sorotan tajam berbagai pihak.

Komite Solidaritas Perempuan, melalui sebuah pernyataan di media sosial, menyuarakan kekecewaan yang mendalam. "Tahun lalu, enam wanita dibunuh oleh narapidana yang melarikan diri dari penjara atau dibebaskan sementara. Menteri Kehakiman dan Menteri Dalam Negeri tidak mengatakan apa pun dan tidak ada yang bertanggung jawab! Dan hari ini, narapidana lain kembali menebar teror," tulis mereka.

Data Kekerasan yang Mengkhawatirkan

Kemarahan kelompok feminis bukan tanpa alasan. Data dari organisasi advokasi Turki, We Will Stop Femicide, yang aktif mendokumentasikan kasus serupa, menunjukkan gambaran yang suram. Pada tahun 2025 saja, tercatat 294 perempuan dibunuh oleh pria, sementara 297 perempuan lainnya ditemukan tewas dalam keadaan mencurigakan. Dari angka korban yang tewas tersebut, 35 persen dibunuh oleh suami mereka sendiri dan 57 persen kehilangan nyawa akibat senjata api.

Menyikapi pembunuhan terbaru ini, kelompok We Will Stop Femicide tidak hanya mengecam keras insiden tersebut, tetapi juga telah menyerukan aksi protes di Ankara. Mereka mendesak adanya pertanggungjawaban dan perubahan kebijakan yang lebih ketat untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar