MURIANETWORK.COM - Tantangan nyata dalam mengelola keberlanjutan studi mahasiswa asal daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) mengemuka dalam rapat Komisi X DPR dengan sejumlah perguruan tinggi. Wakil Rektor Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Heru Susanto, mengungkapkan bahwa meski kuota afirmasi untuk calon mahasiswa 3T selalu terpenuhi, persoalan terbesar justru terletak pada tahap pendampingan hingga mereka berhasil lulus.
Komitmen dan Realitas di Lapangan
Dalam paparannya, Prof. Heru Susanto menegaskan komitmen Undip dan perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH) lainnya untuk terus membuka pintu selebar-lebarnya bagi mahasiswa dari daerah 3T melalui skema Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik). Komitmen ini dijalankan meski dengan kesadaran penuh akan adanya kesenjangan kemampuan akademik awal.
“Kalau tadi yang jadi pertanyaan garis bawahnya adalah bagaimana kalau penerimaan hanya berbasis kompetisi 'murni', keberpihakan pada teman-teman dari 3T, teman-teman dari yang memang secara kompetisi, suka tidak suka, diakui atau tidak diakui, memang kurang, tapi mereka adalah sama dengan kita, maka kita harus berpihak, itu kita setuju, tentu teman-teman PTN semua lakukan itu,” ucap dia.
Artikel Terkait
Pemerintah Tambah AI hingga Konten Digital dalam Subsektor Ekonomi Kreatif
Komnas HAM Desak Perluas Pemeriksaan ke Mantan Kepala BAIS dalam Kasus Penyiraman Aktivis
Timnas Indonesia Tuntaskan Laga Uji Coba dengan Kemenangan 4-0 di Era Baru John Herdman
Bendera Iran Berkibar di Tengah Badai: Simbol, Makna, dan Pertarungan Identitas