MURIANETWORK.COM - Pelatih Timnas Indonesia U-17, Nova Arianto, menyikapi kekalahan telak 0-7 dari Tiongkok U-17 dalam laga uji coba internasional di Indomilk Arena, Tangerang, Minggu (8/2/2026) malam, sebagai pelajaran berharga. Kekalahan ini menjadi pengalaman pertama bagi mayoritas skuad Garuda Muda di pentas internasional, sekaligus bagian dari proses persiapan panjang menuju Piala Asia U-17 2026.
Ekspektasi dan Realita di Lapangan
Meski telah melakukan persiapan matang, Nova Arianto mengakui hasil akhir pertandingan jauh dari target yang ditetapkan. Performa tim dinilainya belum mencapai level optimal yang diharapkan. Namun, pelatih yang berpengalaman membina tim usia muda ini memahami konteks pertandingan tersebut.
“Secara ekspektasi, hasil pertandingan ini memang jauh dari harapan kami, terutama jika melihat apa yang sudah kami persiapkan sejak sebelum pertandingan. Dari sisi performa, hari ini memang belum sesuai dengan yang kami inginkan,” ungkapnya dalam konferensi pers pasca laga.
Momen Berharga untuk Pemain Debutan
Nova menekankan bahwa laga melawan Tiongkok merupakan pengalaman debut internasional bagi banyak pemainnya. Menghadapi tim yang secara kualitas berada di level baik, perjuangan anak asuhnya di lapangan tetap patut diapresiasi.
“Saya bisa memahami kondisi ini karena ini merupakan pertandingan internasional pertama bagi para pemain. Kita juga tahu Tiongkok adalah salah satu tim yang sangat baik. Namun saya melihat para pemain sudah berjuang sangat maksimal hari ini,” jelas Nova.
Lompatan Level yang Menantang
Mantan pemain nasional itu juga menyoroti perbedaan signifikan antara kompetisi domestik dan pertandingan internasional. Menurut analisanya, intensitas dan level permainan yang lebih tinggi menjadi tantangan utama. Kesalahan teknis kecil yang mungkin bisa ditolerir di level Elite Pro Academy (EPA) berubah menjadi celah fatal saat berhadapan dengan tim Asia yang solid.
“Secara level dan intensitas, pertandingan ini jelas berbeda. Di EPA, mungkin saat melakukan sedikit kesalahan tim masih bisa bertahan. Tetapi ketika menghadapi lawan seperti Tiongkok, satu kesalahan kecil bisa menjadi masalah besar,” tuturnya.
Dari sudut pandang kepelatihan, pengalaman pahit ini justru menjadi data lapangan yang krusial. Pertandingan tersebut mengukur secara nyata jarak yang harus ditempuh tim sebelum berlaga di turnamen utama. Proses evaluasi mendetail terhadap setiap lini permainan kini menjadi pekerjaan rumah untuk membenahi kekurangan sebelum menghadapi ujian selanjutnya.
Artikel Terkait
DPD RI Terima Laporan Pelanggaran HAM di Papua Pegunungan dari Amnesty International
Polisi Sydney Bubarkan Aksi Tolak Kunjungan Presiden Israel dengan Gas Air Mata dan Semprotan Merica
Pengacara Bantah Virgoun Suruh Sopir Akses CCTV Rumah Inara Rusli
Teguran Soal Drum Berisik Berujung Penganiayaan dan Laporan Balik di Cengkareng