Warga Blora Blokir Jalan Desa dengan Batu Bata, Protes Lahan Tergerus

- Rabu, 07 Januari 2026 | 20:00 WIB
Warga Blora Blokir Jalan Desa dengan Batu Bata, Protes Lahan Tergerus

BLORA Sebuah video yang memperlihatkan akses jalan desa di Blora, Jawa Tengah, terblokade oleh tumpukan batu bata, ramai diperbincangkan di media sosial. Aksi nekat seorang warga ini ternyata berawal dari klaim bahwa lahan pekarangannya tergerus saat jalan diperlebar.

Kejadiannya di RT 02 RW 03, Desa Kalangan, Kecamatan Tunjungan. Bukan cuma viral, aksi sepihak ini bikin resah warga lain yang setiap hari harus melewati jalur itu.

Di lokasi, terlihat jelas susunan batu kumbung setinggi hampir 30 centimeter membentang sepanjang 15 meter. Gundukan itu memakan separuh badan jalan, membuat mobil sama sekali tak bisa lewat. Pengendara motor pun harus pelan-pelan dan ekstra waspada.

Menurut informasi, pondasi batu ini sudah berdiri sejak dua hari lalu. Pelakunya adalah pemilik lahan yang merasa dirugikan. Dia keberatan tanahnya dipakai untuk akses umum tanpa ada kompensasi atau kejelasan batas yang disepakati.

Juremi, salah seorang warga, mencoba menjelaskan awal mula persoalan. Dulunya, gang itu cuma berlebar satu meter dan dihuni lima kepala keluarga. Seiring waktu, karena kebutuhan bertambah, warga swadaya memperlebarnya jadi sekitar 2,5 meter.

"Nah, tiba-tiba orang itu bilang pelebarannya makan tanah dia. Karena nggak terima, ya akhirnya dia pasang pondasi kayak gitu. Sekarang yang mau lewat jadi susah semua," ujar Juremi, Rabu (7/1/2026).

Kekecewaan warga ternyata tidak hanya mengarah ke si pelaku blokade. Pemerintah Desa Kalangan juga jadi sasaran kritik. Di mata mereka, perangkat desa terkesan tutup mata dan membiarkan konflik ini berlarut-larut tanpa penyelesaian.

Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat upaya mediasi formal dari pihak desa. Akibatnya, warga yang merasa terjepit akhirnya mengambil langkah sendiri.

"Kami terpaksa cari jalan alternatif, bikin tembusan ke jalan raya. Semua swadaya, tanpa bantuan dari Pemdes," jelas Juremi dengan nada kesal.

Jalan desa yang semestinya jadi penghubung, kini justru jadi sumber masalah. Sementara tumpukan batu itu masih tertinggal di sana, menunggu tindakan tegas yang sepertinya tak kunjung datang.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar