Hasil pemilu parlemen Thailand akhir pekan lalu membawa kejutan. Bukan partai dinasti Shinawatra yang memimpin, melainkan partai petahana, Bhumjaithai, yang dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Anutin Charnvirakul.
Menurut data sementara, partai beraliran konservatif itu berhasil mengamankan sekitar 194 kursi di DPR. Jelas, ini kemenangan signifikan. Tapi, jalan untuk membentuk pemerintahan baru masih panjang. Mereka butuh 251 kursi, artinya masih kurang 57 kursi lagi.
Kalau target itu tak tercapai, ya, mau tak mau Bhumjaithai harus cari sekutu. Koalisi menjadi satu-satunya opsi.
Di sisi lain, Partai Rakyat yang progresif menempati posisi runner-up dengan 116 kursi. Sementara itu, Pheu Thai partai yang selama ini jadi simbol kekuatan keluarga Shinawatra harus puas di peringkat ketiga. Mereka hanya mendapat 76 kursi. Kekalahan yang cukup telak, menurut sejumlah pengamat.
Meski begitu, posisi Pheu Thai tetap krusial. Mereka diyakini bakal menerima tawaran jika diajak bergabung dalam koalisi yang dipimpin Bhumjaithai. Politik itu soal hitung-hitungan, dan kursi mereka sangat dibutuhkan.
Pemilu kali ini berlangsung dalam suasana yang tidak mudah. Pertumbuhan ekonomi Thailand terasa lambat, sementara sentimen nasionalis makin menguat di tengah masyarakat. Meski lebih dari 50 partai ikut bertarung, nyatanya hanya tiga kekuatan besar Partai Rakyat, Bhumjaithai, dan Pheu Thai yang punya organisasi dan pengaruh nasional untuk benar-benar bersaing.
Kini, semua mata tertuju pada proses negosiasi membentuk pemerintahan. Apakah Bhumjaithai akan berhasil merajut koalisi yang solid? Atau justru terjadi kejutan lain? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.
Artikel Terkait
Anak Tewas Bunuh Diri karena Tak Mampu Beli Alat Tulis, Refleksi Sistem Dukungan yang Rapuh
Pemprov DKI Jatuhkan Sanksi Teguran ke Perusahaan Pengguna Air Tanah
Polres Metro Jabar dan Pemkot Gelar Kerja Bakti Berskala Besar di Bantaran Kali Cengkareng
Pelaku Pencurian Kabel di Kantor Lurah Tertidur Pulas di TKP