“Contohnya banyaklah, satu sering ngajarin cara-cara penanaman jagung, cara pemupukan, cara penyemprotan,” kenang Wawan.
Berkat bimbingan dan fasilitas mesin tersebut, hasil panen petani kini diserap langsung oleh Bulog dengan harga yang lebih kompetitif. Wawan membandingkan, harga di Bulog bisa mencapai Rp 6.400 per kilogram, sementara ke tengkulak hanya sekitar Rp 5.000.
“Lumayanlah untuk petani ini kan, untuk ongkos-ongkos kami kan, makan-minum,” sambungnya.
Secara ekonomi, Aipda Iwan memperkirakan petani bisa menghasilkan Rp 3-4 juta per bulan dari satu hektare lahan. Penghasilan yang stabil ini bahkan menarik minat warga dari profesi lain untuk beralih ke bertani.
Diakui dan Dukungan dari Institusi
Komitmen dan hasil kerja Aipda Iwan mendapat perhatian dan dukungan dari institusi kepolisian. Polres Ogan Ilir secara resmi menugaskannya sebagai penggerak ketahanan pangan di wilayah tersebut.
Kabag SDM Polres Ogan Ilir, AKP Burnani, mengonfirmasi peran penting Aipda Iwan. “Dia ini penggerak daripada petani-petani untuk bercocok tanam jagung. Tadinya wilayah Ogan Ilir, padi, karet tidak ada yang nanam jagung, dialah memotor penggerak segalam macam,” kata AKP Burnani.
Lebih dari itu, inovasi mesin rakitan kelompok taninya mendapat pesanan dari institusi. Kapolda Sumsel pernah memesan empat unit mesin dryer, dan Kapolri memesan 15 unit mesin perontok jagung melalui Kapolda Sumsel untuk dibagikan kepada petani di berbagai daerah.
“Benar ada mesin pipil karya kelompok tani Serai Makmur Sejahtera. Ada 15 unit yang dibeli Kapolri melalui Kapolda, kemudian mesin pipil tersebut diberikan kepada para petani jagung sekitar,” jelas AKP Burnani.
Pemberdayaan yang Menyeluruh
Upaya pemberdayaan yang dilakukan Aipda Iwan bersifat holistik. Ia tidak hanya fokus pada petani pria, tetapi juga memberdayakan para istri petani dengan membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT).
Kelompok yang beranggotakan 12 orang ini diajarkan untuk mengolah jagung pecah menjadi pakan ternak, menciptakan rantai nilai tambah sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru. Mesin untuk menggiling jagung pun mereka rakit sendiri untuk efisiensi biaya.
Dedikasi yang tulus dan berkelanjutan ini yang membuat para petani seperti Wawan mengusulkan Aipda Iwan untuk mendapatkan penghargaan. “Beliau baik, dia pengertian, membimbing kami sebagai petani, baiklah kepribadiaannya,” pungkas Wawan, menggambarkan sosok pembina yang telah menjadi bagian dari kemajuan pertanian lokal.
Artikel Terkait
Dua Anak Harimau Benggala di Kebun Binatang Bandung Mati Terinfeksi Virus Panleukopenia
Swedia Hadapi Ukraina di Play-off Tanpa Striker Andalan Alexander Isak
Fadli Zon: Kolaborasi Lintas Generasi Kunci Pelestarian Budaya Indonesia
KPK Sambut Baik Desakan MAKI agar DPR Bentuk Panja Khusus Usut Penahanan Yaqut