Anggota Polri Inovasi Mesin Pertanian, Dongkrak Ekonomi Petani Ogan Ilir

- Senin, 09 Februari 2026 | 11:05 WIB
Anggota Polri Inovasi Mesin Pertanian, Dongkrak Ekonomi Petani Ogan Ilir

MURIANETWORK.COM - Seorang anggota Polri, Aipda Iwan Haryanto, menjadi motor penggerak ketahanan pangan di Ogan Ilir, Sumatera Selatan, dengan membina puluhan petani dan menciptakan inovasi mesin pertanian. Dedikasinya selama bertahun-tahun tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga mendongkrak perekonomian desa, sehingga namanya diusulkan untuk penghargaan Hoegeng Awards 2026 oleh para petani yang merasakan langsung manfaat bimbingannya.

Dari Hobi ke Pengabdian untuk Petani

Keterlibatan Aipda Iwan dalam dunia pertanian berawal dari hobi yang digelutinya sejak belasan tahun lalu. Ilmu bertani ia dapatkan secara turun-temurun dari orang tua. Hobi ini kemudian berkembang menjadi bentuk pengabdian nyata ketika ia secara sukarela membagikan pengetahuannya kepada para petani di sekitarnya.

“Setelah saya bertugas, saya memang hobi bertani, (ilmu bertani) dari orang tua,” tutur Aipda Iwan.

Kini, sebagai pembina Kelompok Tani Serai Makmur Sejahtera, ia bersama sekitar 20 anggota menggarap lahan seluas 30 hektare yang ditanami jagung dan melon. Selama lebih dari satu dekade, ia mengaku telah membina lebih dari 100 petani hingga mereka bisa mandiri.

Inovasi Mesin untuk Atasi Kendala Petani

Kepedulian Aipda Iwan tidak berhenti pada transfer ilmu. Ia melihat langsung kendala di lapangan, seperti proses perontokan dan pengeringan jagung yang masih manual serta bergantung cuaca. Hal ini mendorongnya untuk berinovasi menciptakan solusi.

Dengan keterampilan mesin dan pengelasan yang dikuasainya secara otodidak, ditambah belajar dari tutorial daring, ia bersama kelompok tani merakit mesin perontok (pemipil) dan pengering (dryer) jagung. Biaya produksinya jauh lebih terjangkau dibanding mesin pabrikan.

“Di samping dari pertanian saya juga buat mesin dryer jagung buatan sendiri saya dan teman-teman. Jadi budgetnya lebih kecil dibanding kita beli pabrikan,” jelas Iwan.

Untuk mewujudkan pembuatan mesin dryer berkapasitas 10 ton itu, ia bahkan berani mengajukan pinjaman bank. Tekadnya kuat karena melihat urgensi alat tersebut.

“Saya menghadap ke Pak Kapolres Ogan Ilir, saya minjam uang bank Rp 100 jutaan, alhamdulillah Pak Kapolres acc. Saya buatkan oven, ya alhamdulillah bisa bermanfaat untuk kawan-kawan ini,” ungkapnya.

Dampak Nyata: Harga Naik, Ekonomi Desa Tumbuh

Inovasi mesin buatan Aipda Iwan membawa dampak langsung yang signifikan. Mesin dryer memastikan kadar air jagung mencapai 14% sesuai standar Bulog, sehingga harga jualnya bisa lebih tinggi. Petani seperti Wawan, yang telah dibina Iwan selama enam tahun, merasakan manfaatnya.

“Contohnya banyaklah, satu sering ngajarin cara-cara penanaman jagung, cara pemupukan, cara penyemprotan,” kenang Wawan.

Berkat bimbingan dan fasilitas mesin tersebut, hasil panen petani kini diserap langsung oleh Bulog dengan harga yang lebih kompetitif. Wawan membandingkan, harga di Bulog bisa mencapai Rp 6.400 per kilogram, sementara ke tengkulak hanya sekitar Rp 5.000.

“Lumayanlah untuk petani ini kan, untuk ongkos-ongkos kami kan, makan-minum,” sambungnya.

Secara ekonomi, Aipda Iwan memperkirakan petani bisa menghasilkan Rp 3-4 juta per bulan dari satu hektare lahan. Penghasilan yang stabil ini bahkan menarik minat warga dari profesi lain untuk beralih ke bertani.

Diakui dan Dukungan dari Institusi

Komitmen dan hasil kerja Aipda Iwan mendapat perhatian dan dukungan dari institusi kepolisian. Polres Ogan Ilir secara resmi menugaskannya sebagai penggerak ketahanan pangan di wilayah tersebut.

Kabag SDM Polres Ogan Ilir, AKP Burnani, mengonfirmasi peran penting Aipda Iwan. “Dia ini penggerak daripada petani-petani untuk bercocok tanam jagung. Tadinya wilayah Ogan Ilir, padi, karet tidak ada yang nanam jagung, dialah memotor penggerak segalam macam,” kata AKP Burnani.

Lebih dari itu, inovasi mesin rakitan kelompok taninya mendapat pesanan dari institusi. Kapolda Sumsel pernah memesan empat unit mesin dryer, dan Kapolri memesan 15 unit mesin perontok jagung melalui Kapolda Sumsel untuk dibagikan kepada petani di berbagai daerah.

“Benar ada mesin pipil karya kelompok tani Serai Makmur Sejahtera. Ada 15 unit yang dibeli Kapolri melalui Kapolda, kemudian mesin pipil tersebut diberikan kepada para petani jagung sekitar,” jelas AKP Burnani.

Pemberdayaan yang Menyeluruh

Upaya pemberdayaan yang dilakukan Aipda Iwan bersifat holistik. Ia tidak hanya fokus pada petani pria, tetapi juga memberdayakan para istri petani dengan membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT).

Kelompok yang beranggotakan 12 orang ini diajarkan untuk mengolah jagung pecah menjadi pakan ternak, menciptakan rantai nilai tambah sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru. Mesin untuk menggiling jagung pun mereka rakit sendiri untuk efisiensi biaya.

Dedikasi yang tulus dan berkelanjutan ini yang membuat para petani seperti Wawan mengusulkan Aipda Iwan untuk mendapatkan penghargaan. “Beliau baik, dia pengertian, membimbing kami sebagai petani, baiklah kepribadiaannya,” pungkas Wawan, menggambarkan sosok pembina yang telah menjadi bagian dari kemajuan pertanian lokal.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar