Lima Desa Terima Apresiasi Desa Budaya 2025 di Puncak Acara di Samosir

- Minggu, 08 Februari 2026 | 14:25 WIB
Lima Desa Terima Apresiasi Desa Budaya 2025 di Puncak Acara di Samosir

Di tepian Danau Toba yang legendaris, tepatnya di Huta Sinapuran, Kabupaten Samosir, sebuah acara penting digelar akhir pekan lalu. Kementerian Kebudayaan, lewat Direktorat yang membidangi SDM dan Pranata Kebudayaan, menggelar puncak Apresiasi Desa Budaya 2025. Ini adalah bagian dari program panjang Pemajuan Kebudayaan Desa yang sudah berjalan sejak beberapa tahun silam.

Lima desa pun ditetapkan sebagai penerima apresiasi. Mereka adalah Desa Cibaliung (Banten), Desa Duarato (NTT), Desa Suak Timah (Aceh), Desa Tanjung Isuy (Kalimantan Timur), dan Desa Tebat Patah (Jambi). Menurut penilaian juri, kelimanya dinilai sukses membangun ekosistem budaya yang tak sekadar hidup, tapi juga berkelanjutan. Lebih dari itu, budaya di desa-desa itu telah menjadi sistem kehidupan yang nyata dampaknya baik secara sosial, ekologi, maupun ekonomi bagi warganya.

Program ini sendiri sebenarnya bukan hal baru. Sudah berjalan sejak 2021 sebagai upaya strategis menjadikan desa sebagai fondasi sekaligus jantung kebudayaan nasional. Kalau tahun ini melibatkan 150 desa, maka secara kumulatif program telah menjangkau lebih dari 550 desa di seluruh penjuru tanah air, dari Sumatra hingga Papua.

Proses penilaiannya ketat, melalui tiga tahap utama: Temu Kenali, Pengembangan, dan terakhir Pemanfaatan. Dewan jurinya pun terdiri dari berbagai disiplin ilmu, fokus pada bagaimana pengembangan budaya di desa bisa memberi dampak yang seluas-luasnya.

Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan selamat sekaligus apresiasi tinggi.

"Saya mengucapkan selamat kepada lima desa penerima Apresiasi Desa Budaya tahun ini. Desa-desa ini menjadi contoh bagaimana kebudayaan dapat hidup, tumbuh, dan menjadi kekuatan pembangunan dari desa. Ini baru ujung dari gunung es, karena hampir setiap desa di Indonesia memiliki kekayaan ekspresi budaya yang unik dan berbeda satu sama lain,"

Demikian pernyataan tertulisnya yang dibacakan Minggu (8/2/2026), meski acara berlangsung sehari sebelumnya, Sabtu (8/2). Fadli menegaskan, kebudayaan adalah sumber daya yang tak akan pernah habis asalkan dijaga dan diwariskan. Ia berharap desa-desa di Indonesia bisa menjadi penjaga gawang terdepan bagi kelestarian budaya bangsa.

Komitmen pemerintah pusat juga ditegaskannya, termasuk soal percepatan penetapan cagar budaya nasional.

"Kabupaten Samosir memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Dari 83 cagar budaya yang ada di tingkat kabupaten, kami akan mendorong dan mempercepat agar semakin banyak yang dapat ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat nasional,"

Lebih jauh, Fadli menekankan bahwa kemajuan budaya hanya bisa optimal lewat kolaborasi. Kerja sama antara pemerintah pusat, daerah, hingga desa, plus partisipasi aktif masyarakat dan komunitas, mutlak diperlukan. "Ini amanat konstitusi," tegasnya, merujuk pada Pasal 32 UUD 1945.

Dukungan tak hanya datang dari eksekutif. Anggota Komisi X DPR RI, Sabam Sinaga, yang hadir di lokasi, menyatakan apresiasinya. Baginya, Apresiasi Desa Budaya adalah wujud nyata kehadiran negara dalam menjaga kebudayaan.

"Kegiatan Apresiasi Desa Budaya ini patut kita banggakan bersama. Sebagai mitra Kementerian Kebudayaan di Komisi X DPR RI, kami sangat mengapresiasi dan mendukung penuh program ini agar terus berlanjut sebagai bukti nyata kepedulian negara terhadap budaya,"

Sebagai tuan rumah, Bupati Samosir Vandiko T. Gultom tak kalah bersemangat. Ia mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan dan menyebut ini sebagai kehormatan besar bagi daerahnya.

"Atas nama Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Samosir, kami mengucapkan terima kasih dan merasa bangga karena Kabupaten Samosir dipercaya menjadi tuan rumah Apresiasi Desa Budaya. Ini menjadi kehormatan sekaligus motivasi bagi kami untuk terus menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya yang kami miliki,"

Vandiko juga mengonfirmasi komitmennya untuk mendorong lebih banyak cagar budaya di tingkat kabupaten yang jumlahnya sekitar 83 saat ini naik status menjadi cagar budaya nasional. Selain itu, tentu saja, melahirkan lebih banyak lagi desa budaya.

Pada intinya, apresiasi ini adalah bentuk pengakuan negara atas kerja sunyi banyak pihak di desa: para penjaga tradisi, penggerak budaya, komunitas, hingga pemerintah desa. Mereka adalah pilar yang konsisten menjadikan kebudayaan sebagai sumber daya pembangunan yang nyata.

Acara yang dihadiri sejumlah pejabat tinggi ini juga diisi dengan kunjungan lapangan dan berbagi praktik baik. Hadir antara lain Wakil Bupati Samosir, Ariston Tua Sidauruk, pimpinan DPRD setempat, serta sejumlah direktur dan kepala balai di lingkungan Kementerian Kebudayaan.

Melalui momen seperti ini, Kementerian Kebudayaan ingin menegaskan komitmennya untuk terus berpihak pada penguatan budaya di tingkat akar rumput. Harapannya jelas: penghargaan ini bukan sekadar piala atau piagam, tapi pemantik semangat bagi semua desa di Indonesia. Agar budaya tetap terjaga, berkembang, dan pada akhirnya menjadi kekuatan utama membangun jati diri dan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar