Prabowo Buka Sumbangan Bencana, Tekankan Transparansi Penyaluran

- Minggu, 08 Februari 2026 | 09:10 WIB
Prabowo Buka Sumbangan Bencana, Tekankan Transparansi Penyaluran

MURIANETWORK.COM - Presiden Prabowo Subianto secara terbuka membuka pintu bagi sumbangan bencana dalam rapat terbatas di Aceh Tamiang, awal Januari 2026, seraya menekankan pentingnya pelaporan yang transparan kepada pemerintah pusat. Pernyataan ini menyentuh inti dari tantangan klasik dalam penanggulangan bencana: bagaimana menyeimbangkan kecepatan penyaluran bantuan dengan akuntabilitas yang ketat. Di tengah harapan masyarakat yang tinggi dan sorotan publik yang tajam, tata kelola hibah bencana menjadi ujian nyata bagi kepercayaan dan legitimasi pemerintah.

Dilema antara Kecepatan dan Akuntabilitas

Setiap kali bencana melanda, tekanan untuk bertindak cepat begitu besar. Korban membutuhkan pertolongan segera, dan pemerintah dituntut untuk segera hadir. Namun, di sisi lain, masyarakat juga berhak mengetahui asal-usul bantuan, penanggung jawabnya, dan bagaimana setiap rupiah dibelanjakan. Hibah dari mitra internasional dan organisasi non-pemerintah seringkali menjadi penopang vital, namun jika pengelolaannya tidak hati-hati, justru dapat memicu masalah baru.

Dalam atmosfer seperti ini, satu kesalahan prosedur atau keterlambatan informasi bisa dengan mudah memantik kecurigaan. Persepsi publik terbentuk dengan cepat, seringkali lebih cepat dari kemampuan pemerintah memberikan klarifikasi resmi. Oleh karena itu, administrasi hibah bencana jauh melampaui sekadar pencatatan keuangan; ini menyangkut pondasi kepercayaan yang menyangga legitimasi setiap kebijakan pemerintah di lapangan.

Kerumitan di Lapangan dan Prinsip yang Harus Tetap Tegak

Situasi di lokasi bencana memang unik. Bantuan datang dalam kondisi darurat, sementara prosedur administrasi standar mungkin belum sepenuhnya siap. Koordinasi antar berbagai kementerian dan lembaga harus dilakukan dalam waktu singkat, menyesuaikan dengan dinamika kebutuhan yang berubah setiap jam. Di balik urgensi ini, prinsip akuntabilitas harus tetap dijaga untuk memastikan setiap bantuan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan fiskal.

Dilemanya nyata: mengejar kecepatan dengan mengabaikan akuntabilitas berisiko menimbulkan masalah hukum dan merusak reputasi. Sebaliknya, penerapan peraturan yang terlalu kaku justru dapat membelit proses penyaluran, sehingga bantuan terlambat sampai ke tangan mereka yang paling membutuhkan.

Transparansi sebagai Pondasi Kepercayaan

Akuntabilitas dalam pengelolaan hibah bencana sejatinya adalah cara untuk membangun dan "menjual" citra negara yang dapat dipercaya. Bagi mitra internasional, tata kelola yang baik menunjukkan kapasitas pemerintah dalam mengelola dana, yang juga harus mereka pertanggungjawabkan kepada para pembayar pajak di negara asalnya.

"Bagi mitra internasional, tata kelola hibah menunjukkan seberapa baik pemerintah dapat mengelola dan dipercaya dengan uang karena mereka juga harus mempertanggungjawabkan penyaluran bantuan tersebut kepada taxpayers di negaranya," jelasnya.

Negara dengan sistem yang tertib dan transparan akan dipandang sebagai mitra yang kredibel. Lebih dari sekadar tambahan pembiayaan, hibah yang dikelola dengan baik juga berfungsi sebagai instrumen diplomasi dan penguatan kapasitas nasional, sekaligus membantu menjaga stabilitas fiskal dengan tidak membebani anggaran negara secara berlebihan.

Langkah Strategis ke Depan

Menyikapi kompleksitas ini, diperlukan penguatan tata kelola hibah bencana yang adaptif namun tetap berbasis risiko. Beberapa langkah strategis dapat dipertimbangkan. Pertama, menerapkan pendekatan berbasis risiko yang membedakan perlakuan untuk hibah darurat kemanusiaan dengan hibah pembangunan dalam situasi normal. Diferensiasi ini memungkinkan percepatan tanpa mengabaikan pengendalian.

Kedua, penyederhanaan prosedur yang terukur. Dalam kondisi darurat, pelaporan dapat dilakukan secara bertahap atau "ex-post", asalkan seluruh transaksi terdokumentasi dengan baik dan siap diaudit. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas tanpa mengorbankan prinsip tata kelola yang baik.

Ketiga, penguatan transparansi melalui digitalisasi. Data hibah yang terintegrasi dan mudah diakses akan mempercepat koordinasi, mendukung pengambilan keputusan, dan yang terpenting, membangun kepercayaan publik. Keempat, peningkatan kapasitas aparatur di tingkat kementerian maupun daerah, mengingat banyak hibah diimplementasikan di garis depan, sehingga kualitas administrasi di tingkat pelaksana menjadi kunci keberhasilan.

Solidaritas yang Bermakna

Pada akhirnya, hibah bencana adalah wujud nyata solidaritas global dan kepedulian bersama. Namun, solidaritas itu hanya akan bermakna jika dikelola dengan penuh tanggung jawab. Kecepatan dan akuntabilitas bukanlah dua kutub yang bertentangan, melainkan dua sisi dari kebijakan publik yang matang dan terpercaya.

Dengan memperkuat kerangka akuntabilitas, negara tidak hanya memastikan bantuan tepat sasaran, tetapi juga menjaga kepercayaan masyarakat serta kredibilitas di mata dunia internasional. Di tengah krisis, kehadiran negara yang paling dibutuhkan bukan sekadar yang cepat, melainkan yang dapat diandalkan dan dipercaya hingga ke akarnya.

Simeon AP Conterius. ASN di DJPPR-Kementerian Keuangan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar