Brimob Riau Bersihkan Surau dan Pondok Quran di Tengah Reruntuhan Galodo

- Kamis, 11 Desember 2025 | 17:05 WIB
Brimob Riau Bersihkan Surau dan Pondok Quran di Tengah Reruntuhan Galodo

Bukan cuma soal mengeruk lumpur atau membangun kembali jembatan yang putus. Komitmen Polda Riau untuk membantu warga Palembayan, Agam, pasca-bencana galodo ternyata lebih dalam dari itu. Mereka juga menyentuh sisi lain yang tak kalah penting: membersihkan tempat ibadah.

Pada Kamis lalu, suasana di Surau Baitul Ikhlas TPA/MDA di Kampung Jorong Subarang Aia terlihat berbeda. Puluhan personel Brimob, yang tergabung dalam Operasi Aman Nusa II, sibuk menyapu dan mengepel lantai. Dengan peralatan seadanya, mereka bekerja bahu-membahu. Karpet-karpet pun dikeluarkan, dicuci bersih, agar nantinya warga bisa beribadah dengan nyaman lagi.

Lokasi ini sendiri termasuk terpencil. Sejak jembatan putus diterjang galodo pada 27 November silam, akses ke sini sangat terbatas.

Fokus di Titik Terparah

Sebelumnya, upaya mereka lebih difokuskan pada pemulihan infrastruktur. Di Nagari Salareh Aia, yang jadi salah satu wilayah terdampak paling berat, personel BKO Polda Riau terus bekerja memulihkan akses jalan. Alat berat dikerahkan untuk membersihkan jalan dan bekas rumah warga yang masih diselimuti lumpur tebal.

Operasi kemanusiaan ini dipimpin langsung oleh Dansat Brimob Polda Riau, Kombes Ketut Gede Adi Wibawa. Sasaran utamanya adalah lokasi-lokasi yang paling parah kondisinya, seperti Kampung Tengah di Nagari Salareh Aia Timur.

Nah, di hari yang sama, Kamis siang, giliran Pondok Qur'an Al-Muttaqin yang dibersihkan. Satu unit loader turun tangan meratakan lumpur yang menutupi jalan dan fondasi rumah. Suara mesinnya memecah kesunyian desa yang masih luluh lantak.

Sementara di luar alat berat beraksi, di dalam bangunan pondok, aktivitas lain berlangsung. Personel lain dengan sekop, cangkul, dan angkong, mengeluarkan material lumpur dari setiap sudut ruangan. Kerja fisik yang melelahkan, tapi penting.

Upaya seperti inilah yang krusial. Membersihkan sisa-sisa material bencana adalah langkah awal sebelum rekonstruksi benar-benar dimulai. Dengan terbukanya kembali jalur transportasi, aktivitas warga pelan-pelan bisa kembali normal.

Kehadiran mereka di tengah lumpur dan reruntuhan itu membawa harapan. Harapan bahwa normalisasi wilayah bisa berjalan lebih cepat, dan masyarakat segera bisa menghela napas lega, memulai lagi kehidupan yang sempat terhenti.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar